MARKET NEWS

Kejar Target PLTS 100 GWp, Bahlil Pangkas Birokrasi Tender, Simak Kinerja Sahamnya

TIM RISET IDX CHANNEL 24/09/2026 10:28 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan penyesuaian aturan untuk memangkas birokrasi tender proyek energi terbarukan.

Kejar Target PLTS 100 GWp, Bahlil Pangkas Birokrasi Tender, Simak Kinerja Sahamnya. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan penyesuaian aturan untuk memangkas birokrasi tender proyek energi terbarukan.

Langkah ini ditempuh pemerintah untuk mengejar target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt-peak (GWp) dalam tiga tahun.

Percepatan pengadaan tersebut membuka peluang bisnis bagi sejumlah emiten di bursa domestik yang memiliki eksposur terhadap energi surya.

Namun, pergerakan saham emiten-emiten tersebut masih bervariasi di tengah pasar yang belum sepenuhnya merespons rencana ekspansi PLTS tersebut.

Bahlil mengatakan Kementerian ESDM tengah melakukan penyesuaian aturan bagi perusahaan yang dinilai memiliki teknologi dan keekonomian yang kompetitif.

"Saya lagi melakukan penyesuaian aturan bagi perusahaan-perusahaan yang memang kompetitif dan mempunyai kemampuan teknologi yang baik. Kita pertimbangkan untuk tendernya tidak perlu terlalu lama-lama," kata Bahlil dalam pidatonya pada Electricity Connect 2026 di ICE BSD Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah ingin memangkas birokrasi agar proyek energi yang dinilai ekonomis dapat segera direalisasikan. Bahkan, pemerintah membuka opsi penunjukan langsung perusahaan yang dinilai memenuhi kriteria.

"Kita pangkas birokrasinya. Kalau memang ekonomis, kita tunjuk dia saja. Enggak usah terlalu lama-lama, terlalu mutar-mutar, terlalu banyak," ujarnya.

Saat ini pemerintah tengah mengembangkan program PLTS hingga 100 GW dalam tiga tahun. Untuk 2026, pemerintah menargetkan peluncuran sekitar 5,5 GW kapasitas PLTS.

Sementara itu, proses tender untuk sekitar 25-30 GW direncanakan mulai berjalan.

Besarnya target tersebut membuat percepatan proses pengadaan menjadi penting bagi pelaku industri energi surya.

Jika tender dan penunjukan proyek berjalan lebih cepat, peluang belanja modal di sektor PLTS juga terbuka lebih besar bagi perusahaan yang telah memiliki kapasitas pengembangan maupun manufaktur.

Salah satu emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap bisnis PLTS adalah PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN).

Perseroan mengoperasikan PLTS Tempilang 1 dan 2 di Bangka Belitung serta PLTS Tobelo di Halmahera Utara. KEEN juga memiliki pipeline proyek PLTS baru dengan kapasitas sekitar 60 MW.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga memiliki pengalaman sebagai independent power producer (IPP) melalui portofolio pembangkit panas bumi.

Basis bisnis tersebut memberikan eksposur perseroan terhadap pengembangan energi terbarukan, termasuk peluang ekspansi ke proyek energi surya.

Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memiliki eksposur pada sisi manufaktur.

Perseroan telah meresmikan pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal melalui kerja sama dengan PLN.

DSSA menargetkan kapasitas produksi dapat diperluas hingga 2 GWp per tahun dan juga berencana mengembangkan bisnis PLTS atap.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga telah menjalin kemitraan dengan perusahaan asal China untuk mengembangkan kapasitas PLTS dalam skala besar. Namun, kapasitas yang telah beroperasi secara komersial saat ini masih relatif kecil.

Kemudian, PT ABM Investama Tbk (ABMM), melalui anak usahanya PT Cipta Kridatama, telah mengoperasikan PLTS microgrid berkapasitas 643,8 kWp di Jambi.

Proyek tersebut dikembangkan bersama SUN Energy untuk mendukung kebutuhan operasional tambang.

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga memiliki eksposur langsung melalui pengembangan PLTS terapung Tembesi di Batam dengan kapasitas 46 MWp bersama PLN Nusantara Power.

Selain itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) juga memiliki eksposur terhadap sektor energi terbarukan.

Terbaru, ARKO menyebut entitas usahanya di bidang PLTS, PT Endorshine Energy Solutions, mendapatkan fasilitas pembiayaan hingga US$9,8 juta dari PT Sarana Multi Infrastruktur. Fasilitas tersebut ditujukan untuk pembiayaan proyek PLTS yang telah beroperasi secara komersial.

Kinerja Saham Emiten Eksposur PLTS

Di tengah update kebijakan pemerintah tersebut, kinerja saham emiten yang memiliki eksposur terhadap PLTS masih bergerak beragam.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 10.06 WIB, saham KEEN terkoreksi 0,58 persen dalam sepekan ke Rp855 per saham dan melemah 1,72 persen dalam sebulan.

Saham BREN naik tipis 0,97 persen dalam sepekan ke Rp3.120 per saham, tetapi masih turun 10,40 persen dalam sebulan.

Sementara itu, DSSA turun 3,57 persen sepekan ke Rp1.080 per saham dan naik 2,86 persen dalam sebulan.

BNBR menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan paling besar dalam periode tersebut, dengan penurunan 7,78 persen sepekan ke Rp83 per saham dan 19,42 persen dalam sebulan.

Saham ABMM turun 1,79 persen sepekan ke Rp2.740 per saham, tetapi masih naik 0,74 persen dalam sebulan. TOBA melemah 4,67 persen sepekan ke Rp510 per saham dan turun 10,53 persen dalam sebulan.

Sementara itu, PGEO naik 0,95 persen sepekan ke Rp1.065 per saham dan relatif stagnan dalam sebulan. Adapun ARKO turun 1,52 persen sepekan ke Rp3.890 per saham dan terkoreksi 25,90 persen dalam sebulan.

Meski program PLTS 100 GW membuka ruang bisnis yang besar, eksposur terhadap sektor energi surya belum otomatis berarti emiten akan mendapatkan kontrak proyek pemerintah.

Perusahaan tetap perlu memperoleh proyek, memastikan pendanaan, memenuhi persyaratan teknis, serta merealisasikan pembangunan hingga beroperasi secara komersial.

Dampak program tersebut terhadap kinerja masing-masing emiten juga akan bergantung pada posisi perusahaan dalam rantai bisnis PLTS. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE