MARKET NEWS

Ketegangan Iran-AS Kembali Meningkat, Wall Street Dibuka Merah

Desi Angriani 10/06/2026 21:56 WIB

Sentimen pasar masih dibebani oleh kekhawatiran terhadap prospek industri kecerdasan buatan serta memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.

Ketegangan Iran-AS Kembali Meningkat, Wall Street Dibuka Merah (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Rabu (11/6/2026) waktu setempat setelah investor mencerna data inflasi terbaru yang relatif sesuai ekspektasi pasar. 

Namun, sentimen pasar masih dibebani oleh kekhawatiran terhadap prospek industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.

Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 0,6 persen ke level 7.341,33. Indeks teknologi Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 0,8 persen menjadi 25.477,73, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,7 persen ke posisi 50.529,31.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Mei naik 0,5 persen secara bulanan dan 4,2 persen secara tahunan, sesuai dengan perkiraan ekonom. 

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,9 persen secara tahunan, sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar untuk kenaikan bulanan sebesar 0,3 persen.

Data tersebut sempat meredakan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik akan mendorong bank sentral global, termasuk Federal Reserve (The Fed), kembali menaikkan suku bunga secara agresif. 

Pelaku pasar kini mulai mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS sebelum akhir tahun.

Namun, sentimen positif dari data inflasi tersebut tertutupi oleh tekanan di sektor teknologi. Setelah sempat pulih pada awal pekan, aksi jual kembali melanda saham-saham teknologi, terutama sektor semikonduktor yang menjadi tulang punggung pengembangan AI.

Indeks Philadelphia Semiconductor yang menjadi acuan kinerja saham chip turun 1,9 persen pada perdagangan sebelumnya. Saham sejumlah raksasa semikonduktor seperti Nvidia, Micron, Intel, dan Qualcomm juga bergerak lebih rendah pada perdagangan pra-pasar.

Kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan boom AI semakin menguat setelah laporan keuangan Broadcom pekan lalu dinilai mengecewakan. 

Selain itu, aksi penghimpunan dana yang dilakukan Google turut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan teknologi membiayai investasi besar-besaran untuk pembangunan pusat data yang dibutuhkan dalam pengembangan model AI generatif.

Analis Vital Knowledge menilai, tekanan terbesar saat ini berasal dari sektor teknologi dibandingkan perkembangan geopolitik.

"Untuk S&P 500, Iran saat ini menjadi faktor sekunder. Yang lebih penting adalah tekanan besar pada saham teknologi yang terus berlanjut sejak akhir pekan lalu," tulis Vital Knowledge dalam risetnya.

(DESI ANGRIANI)

SHARE