MARKET NEWS

Ketidakpastian Gross Split Sirna, Relaksasi Kuota Jadi Sentimen Positif bagi Emiten Nikel

TIM RISET IDX CHANNEL 10/06/2026 06:28 WIB

Kejelasan arah kebijakan pemerintah terkait sektor mineral dan batu bara (minerba) dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten pertambangan, terutama nikel.

Ketidakpastian Gross Split Sirna, Relaksasi Kuota Jadi Sentimen Positif bagi Emiten Nikel. (Foto: Shutterstock)

IDXChannel – Kejelasan arah kebijakan pemerintah terkait sektor mineral dan batu bara (minerba) dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten pertambangan, terutama produsen nikel.

Pasalnya, kekhawatiran pasar mengenai penerapan skema gross split di sektor minerba mulai mereda setelah pemerintah memastikan kebijakan tersebut hanya berlaku untuk industri minyak dan gas (migas).

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan dan Shabbhi Valdi dalam risetnya yang terbit pada 9 Juni 2026 menilai kepastian regulasi tersebut menghilangkan salah satu faktor yang selama ini membebani sentimen sektor pertambangan.

Dalam rapat bersama antara DPR dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah menegaskan bahwa skema gross split tetap terbatas untuk sektor migas.

Sementara itu, tata kelola sektor mineral dan batu bara tetap mengacu pada mekanisme yang berlaku saat ini, termasuk pengelolaan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Di saat yang sama, pemerintah juga memberi sinyal pelonggaran kuota produksi secara terukur.

Volume produksi berpotensi ditingkatkan saat harga komoditas menguat guna mengoptimalkan penerimaan negara, sementara pasokan dapat dikendalikan ketika harga melemah untuk menjaga daya tawar pasar.

Menurut Maybank, langkah tersebut menjadi kabar baik bagi produsen nikel. Meski kuota produksi berpotensi bertambah pada semester II-2026, mereka tidak memperkirakan harga bijih nikel akan mengalami penurunan signifikan.

Saat ini, Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel yang telah direvisi berada di kisaran USD60 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun lalu yang berada pada rentang USD45-50 per ton. Kondisi tersebut dinilai masih mampu menopang profitabilitas perusahaan tambang nikel.

“Kondisi ini secara keseluruhan berdampak positif bagi perusahaan tambang nikel,” tulis analis Maybank.

Di antara emiten sektor ini, Maybank menjagokan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM). Perseroan dinilai berada pada posisi yang relatif aman apabila pemerintah suatu saat memutuskan menaikkan tarif royalti.

Maybank memperkirakan ANTM berpeluang memperoleh tambahan kuota RKAB pada paruh kedua tahun ini yang dapat mendukung pertumbuhan volume produksi.

Selain itu, lebih dari separuh laba perusahaan saat ini berasal dari bisnis perdagangan emas domestik yang tidak dikenakan royalti.

"Lebih dari 50 persen laba ANTM berasal dari perdagangan emas domestik yang bebas royalti, sehingga relatif terlindungi dari risiko kenaikan royalti maupun risiko ekspor," tulis Maybank.

Eksposur ANTM terhadap pasar ekspor juga dinilai sangat terbatas. Hanya sekitar 2 persen laba perusahaan yang terkait dengan pasar ekspor, sehingga profil kinerjanya dinilai lebih defensif dibandingkan emiten tambang lainnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE