MARKET NEWS

Ketua OJK Sebut Koreksi IHSG Masih dalam Batas Wajar

Tangguh Yudha 19/05/2026 14:59 WIB

Tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik sejalan dengan pergerakan bursa saham di kawasan regional.

Ketua OJK Sebut Koreksi IHSG Masih dalam Batas Wajar (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi menyebut, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam batas yang wajar.

Menurutnya, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik sejalan dengan pergerakan bursa saham di kawasan regional.

"Kita melihatnya sebenarnya masih sejalan dengan trend pelemahan bursa secara regional. Tadi kami juga melihat di atas, banyak juga bursa-bursa lain yang turunnya juga malah lebih dalam. Dan juga kalaupun ada yang naik, itu naik tipis pada hari ini," kata Friderica dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (19/5/2026).

Dia menjelaskan, tekanan pasar dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, serta ekspektasi kebijakan moneter global yang masih cenderung hawkish. 

Dari sisi domestik, sentimen juga datang dari keputusan rebalancing indeks oleh MSCI pada pertengahan Mei.

"Namun kalau kita lihat bahwa pelemahannya itu masih moderat, yaitu di 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI dan juga kemarin di 1,85 persen di 18 Mei setelah libur panjang," tutur dia.

Friderica menambahkan, kondisi ini menunjukkan mekanisme price discovery di pasar modal Indonesia yang semakin didasarkan pada faktor fundamental perusahaan, bukan semata sentimen jangka pendek. 
Pergerakan IHSG, kata dia, kini lebih selaras dengan indeks acuan MSCI serta subindeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.

"Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental, tadi seperti saya sampaikan, dimana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentiment semata. Jadi ini menurut kami juga sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan," ujarnya.

Di tengah tekanan pasar, Friderica menyebut terdapat sejumlah indikator positif. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat meningkat Rp49,71 triliun sepanjang tahun berjalan, didorong oleh net subscription investor ritel. 

Dengan kenaikan 6,39 persen, total dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp718,44 triliun.

Selain itu, jumlah investor ritel di pasar modal juga terus bertambah. OJK mencatat terdapat tambahan sekitar 7 juta investor baru sejak awal tahun, yang menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia masih tinggi.

"Walaupun ada dinamika seperti saat ini, kita melihat bahwa perspektif investor ini juga meningkat dalam hal confidence untuk masuk ke market ditandai dengan peningkatan 7 juta investor retail baru di pasar modal kita, sehingga dari year to date penambahannya sudah 7 juta investor baru di pasar modal Indonesia," kata Frederica.

(DESI ANGRIANI)

SHARE