Konflik AS-Israel Vs Iran Guncang Pasar Global, Bursa Asia Kompak Jatuh
Bursa saham Asia merosot tajam pada Senin (2/3/2026) seiring pasar merespons eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel.
IDXChannel - Bursa saham Asia merosot tajam pada Senin (2/3/2026) seiring pasar merespons eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel, menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen.
Di Jepang, Indeks Nikkei turun 1,14 persen, sementara Topix ambles 1,14 persen hingga pukul 08.35 WIB.
Kemudian, Hang Seng Hong Kong jatuh 1,29 persen, Shanghai Composite merosot 0,20 persen, ASX 200 Australia berkurang 0,49 persen, dan STI Singapura tergelincir 2,10 persen.
Pasar keuangan Korea Selatan tutup pada Senin karena hari libur nasional dan akan kembali beroperasi normal pada Selasa.
Di Eropa, kontrak berjangka (futures) EUROSTOXX 50 turun 1,9 persen dan DAX melemah 1,8 persen.
Sementara itu di Wall Street, futures S&P 500 dan Nasdaq sama-sama kehilangan 1,1 persen.
Melansir dari Reuters, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada akhir pekan yang menewaskan Ali Khamenei.
Teheran membalas dengan menargetkan aset-aset AS di kawasan tersebut, meningkatkan kekhawatiran konflik yang lebih luas.
Serangan militer oleh AS dan Israel belum menunjukkan tanda mereda, sementara Iran merespons dengan rentetan rudal di kawasan, yang berisiko menyeret negara-negara tetangga ke dalam konflik.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Daily Mail bahwa konflik bisa berlangsung empat pekan lagi, seraya menegaskan serangan akan terus berlanjut hingga tujuan AS tercapai.
Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak laut dunia dan 20 persen gas alam cair global.
Meski jalur vital itu belum sepenuhnya diblokade, pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker menumpuk di kedua sisi selat karena khawatir serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran.
“Perkembangan paling langsung dan nyata yang memengaruhi pasar minyak adalah penghentian efektif lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang mencegah 15 juta barel per hari minyak mentah mencapai pasar,” kata Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon.
Ia menambahkan, “Kecuali ada sinyal de-eskalasi dengan cepat, kami memperkirakan terjadi penyesuaian harga minyak yang signifikan ke atas.”
Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan berisiko memicu kembali tekanan inflasi global dan bertindak sebagai pajak tambahan bagi pelaku usaha serta konsumen, sehingga dapat menekan permintaan.
OPEC+ memang menyepakati kenaikan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk April pada Minggu, namun sebagian besar pasokan tersebut tetap harus dikirim keluar dari Timur Tengah menggunakan kapal tanker.
“Analogi historis terdekat menurut kami adalah embargo minyak Timur Tengah pada 1970-an, yang mendorong harga minyak naik 300 persen menjadi sekitar USD12 per barel pada 1974,” ujar SVP Refining, Chemicals and Oil Markets Wood Mackenzie Alan Gelder.
Ia menambahkan, “Itu setara hanya sekitar USD90 per barel dalam nilai 2026. Melampaui level tersebut di pasar saat ini yang khawatir terhadap kehilangan pasokan dalam jumlah besar tampak sangat mungkin.”
Investor juga harus mencermati serangkaian data ekonomi AS pekan ini, termasuk survei manufaktur ISM, penjualan ritel, dan laporan ketenagakerjaan yang krusial.
Setiap pelemahan data berpotensi mengguncang kepercayaan terhadap ekonomi setelah kuartal keempat yang mengecewakan, namun sekaligus kemungkinan memperbesar peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Pasar saat ini memperkirakan peluang pelonggaran pada Juni sebesar 53 persen dan total pemangkasan sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini. (Aldo Fernando)