Konflik Timur Tengah Kian Panas, Dolar Berbalik Menguat di Awal Pekan
Penguatan dolar terjadi setelah meningkatnya ancaman saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.
IDXChannel - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (23/3/2026) seiring meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Penguatan dolar terjadi setelah meningkatnya ancaman saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, yang meredam selera risiko pasar global.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur listrik Iran, sementara Teheran menyatakan siap membalas dengan menyerang fasilitas vital di kawasan.
Melansir CNA, Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama tercatat naik 0,08 persen ke level 99,62. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya dolar sempat mencatat pelemahan mingguan pertama sejak konflik dimulai.
Sementara itu, sejumlah mata uang utama dunia justru melemah terhadap dolar. Euro turun 0,16 persen ke USD1,1552, yen Jepang melemah 0,14 persen ke 159,45 per dolar, dan poundsterling turun 0,06 persen ke USD1,3331.
Di kawasan Asia, dolar Australia yang kerap menjadi indikator sentimen global juga melemah 0,43 persen ke USD0,6993, sementara dolar Selandia Baru turun 0,26 persen ke USD0,5819.
Sementara itu, lonjakan inflasi akibat harga energi juga mendorong perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. Federal Reserve (The Fed) kini diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, berbeda dengan ekspektasi sebelumnya.
Sebaliknya bank sentral utama lainnya mulai menunjukkan sikap lebih hawkish. European Central Bank dan Bank of England mempertahankan suku bunga, namun memberikan sinyal kewaspadaan terhadap inflasi. Bahkan Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati level tertinggi delapan bulan di kisaran 4,415 persen mencerminkan meningkatnya kekhawatiran inflasi.
(DESI ANGRIANI)