MARKET NEWS

Langkah OJK-SRO Redakan Kepanikan, IHSG Pangkas Penurunan ke 1,06 Persen

TIM RISET IDX CHANNEL 29/01/2026 16:19 WIB

Keberhasilan IHSG keluar dari tekanan jual yang tinggi ditopang oleh rebound saham-saham berkapitalisasi besar.

Langkah OJK-SRO Redakan Kepanikan, IHSG Pangkas Penurunan ke 1,06 Persen. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif sepanjang Kamis (29/1/2026), setelah sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit di awal sesi.

Setelah perdagangan dibuka kembali, IHSG berhasil memangkas penurunan hingga penutupan pasar seiring respons investor terhadap langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) dalam menanggapi peringatan MSCI.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 1,06 persen ke level 8.232,20.

Sepanjang perdagangan, indeks sempat mengalami trading halt selama 30 menit setelah anjlok 8 persen pada pukul 09.26-09.56 WIB.

Pada fase penurunan tersebut, IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 7.481,99, atau terkoreksi hingga 10,07 persen, sebelum akhirnya memangkas pelemahan hingga penutupan.

Nilai transaksi tercatat mencapai angka jumbo Rp67,30 triliun, dengan volume perdagangan 94,83 miliar saham.

Sebanyak 544 saham melemah, 227 saham menguat, dan 187 sisanya stagnan.

Keberhasilan IHSG keluar dari tekanan jual yang tinggi ditopang oleh rebound saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin penguatan di antara para big cap dengan melonjak 18,59 persen ke Rp1.850 per saham.

Penguatan juga terjadi pada saham-saham raksasa lainnya, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang naik 5,29 persen, PT Astra Indonesia Tbk (ASII) menguat 4,86 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) bertambah 4,52 persen, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 2,49 persen.

Seperti diketahui, perdagangan saham di BEI sempat dihentikan sementara selama 30 menit dalam dua hari terakhir, yakni pada 28-29 Januari 2026. Langkah tersebut dipicu oleh penurunan tajam IHSG yang anjlok hingga 8 persen pada masing-masing hari perdagangan.

Penurunan signifikan dalam dua hari terakhir setelah penyedia indeks global MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) pasar Tanah Air.

MSCI menilai, minimnya transparansi struktur kepemilikan perusahaan serta data free float menjadi sumber utama kekhawatiran.

Peringatan tersebut menambah tekanan pada pasar yang selama ini dibayangi arus keluar investor asing. MSCI menyebutkan, jika tidak terjadi perbaikan yang berarti dalam aspek transparansi hingga Mei mendatang, bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang berpotensi diturunkan.

Bahkan, Indonesia juga berisiko diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market.

Langkah OJK dan SRO

Diberitakan sebelumnya, OJK dan SRO menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons pengumuman MSCI yang menyoroti kekhawatiran terkait aspek investability tersebut.

“Kami, OJK menerima penjelasan itu sebagai masukan yang baik, karena kami melihat lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emiten dari Indonesia dalam indeks global," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers bersama OJK dan SRO terkait Keputusan MSCI di BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Mahendra menyampaikan, SRO telah mempublikasikan sekaligus menyerahkan data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci kepada MSCI.

Proses penyesuaian masih akan terus berjalan, sejalan dengan evaluasi dan respons MSCI terhadap data tersebut, hingga dapat diterima sepenuhnya.

Sejalan dengan itu, SRO juga berkomitmen memenuhi permintaan MSCI terkait penyajian data kepemilikan saham yang lebih detail dengan mengacu pada best practice internasional.

Di sisi lain, SRO tengah menyiapkan penerbitan aturan mengenai free float minimum sebesar 15 persen. Ketentuan ini direncanakan terbit dalam waktu dekat dan akan diberlakukan baik bagi emiten yang akan melantai melalui IPO maupun emiten yang sudah tercatat di bursa.

Bagi emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan free float minimum tersebut, akan disiapkan mekanisme exit policy sebagai bagian dari upaya penataan pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE