MARKET NEWS

Larangan Ekspor Konsentrat Tekan Kinerja, Laba AMMN Anjlok 60 Persen ke Rp4,39 Triliun 

Desi Angriani 26/03/2026 14:55 WIB

AMMN hanya meraup USD258 juta atau setara Rp4,39 triliun dibandingkan 2024 yang sebesar USD642 juta.

Larangan Ekspor Konsentrat Tekan Kinerja, Laba AMMN Anjlok 60 Persen ke Rp4,39 Triliun  (Foto: dok AMMN)

IDXChannel - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 60 persen pada 2025 imbas larangan ekspor konsentrat serta proses ramp‑up smelter.

AMMN hanya meraup USD258 juta atau setara Rp4,39 triliun (kurs Rp17.000 per USD) dibandingkan 2024 yang sebesar USD642 juta.

"Tahun 2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting bagi AMMAN. Peralihan ke penambangan Fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter, menimbulkan tekanan operasional jangka pendek," kata Direktur Utama Amman Mineral Arief Sidarto dalam keterbukaan informasi, Kamis (26/3/2026).

Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan tercatat merosot 31 persen dari USD2,66 juta menjadi USD1.847 juta pada 2025.

Arief mengungkapkan, perbaikan kinerja mulai terlihat pada kuartal akhir 2025, di mana AMMN memperoleh izin ekspor konsentrat dengan kuota 480.000 metrik ton kering yang berlaku selama enam bulan.

Ini memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp‑up smelter, serta dimulainya penambangan Fase 8.  Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60 persen, namun kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pada kuartal IV-2025, perseroan menjual 151.353 metrik ton kering konsentrat tembaga dengan kandungan 69 juta pon tembaga dan 55.402 ons emas," tutur Arief.

Sementara itu, produksi konsentrat mencapai 446.563 metrik ton kering pada 2025, turun 41 persen YoY. Produksi tembaga dan emas masing‑masing sebesar 209 juta pon dan 102.758 ons, yang mencerminkan penurunan tahunan sebesar 47 persen dan 87 persen. 

"Penurunan produksi logam dibandingkan tahun lalu sudah diantisipasi, karena bijih yang dikelola di pabrik konsentrator selama masa transisi berasal dari stockpiles dan bijih segar berkadar rendah dari Fase 8," ujar dia.

Di sisi hilir, produksi katoda tembaga dimulai pada akhir Maret 2025, dengan total produksi smelter tahun 2025 mencapai 79.849 ton, setara dengan 176 juta pon. Produksi emas murni dari PMR dimulai pada pertengahan Juli 2025, menghasilkan 124.723 ons sepanjang tahun.

Arief menambahkan, perseroan memastikan kinerja smelter stabil dan berkelanjutan pada 2026. Di saat yang sama, proyek ekspansi utama termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), fasilitas regasifikasi LNG, serta ekspansi pabrik konsentrator tetap berjalan sesuai rencana.

"Terlepas dari tantangan jangka pendek, fundamental jangka panjang untuk komoditas tembaga dan emas tetap sangat kuat. Perseroan akan terus fokus pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, dan keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan,” tutur dia.

(DESI ANGRIANI)

SHARE