Lonjakan Harga Minyak ke Atas USD100 Picu Kejatuhan Bursa Asia, Nikkei-Kospi Anjlok 8 Persen
Bursa saham Asia anjlok pada Senin (9/3/2026) karena lonjakan harga minyak memicu tekanan inflasi.
IDXChannel - Bursa saham Asia anjlok pada Senin (9/3/2026) karena lonjakan harga minyak memicu tekanan inflasi yang berpotensi meningkatkan biaya hidup, dan mungkin juga suku bunga, di seluruh dunia.
Pasar saham di Jepang dan Korea Selatan anjlok tajam pada perdagangan awal Senin setelah harga minyak melonjak di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.
Lonjakan ini mengguncang pasar global di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, ambles 7,43 persen. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan jatuh 8,11 persen pada perdagangan pagi.
Kejatuhan KOSPI hingga lebih dari 8 persen hingga memicu circuit breaker pada Senin pukul 08.31 WIB, yang menghentikan perdagangan selama 20 menit.
Circuit breaker tersebut menjadi yang kedua kali diaktifkan pada indeks itu bulan ini, setelah sebelumnya juga dipicu pada Rabu, untuk pertama kalinya sejak Agustus 2024.
Shanghai Composite juga tertekan 1,53 persen, Hang Seng Hong Kong tumbang 3,10 persen, ASX 200 Australia minus 4,28 persen, dan STI Singapura tergerus 2,48 persen.
Harga minyak melonjak tajam seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan utama minyak Amerika Serikat, naik 17,4 persen menjadi USD106,80 per barel.
Sementara itu, Brent Crude menguat 15,65 persen ke level USD107,20 per barel. Kedua acuan tersebut mencapai level yang terakhir terlihat pada awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecilkan dampak lonjakan harga minyak tersebut dan menyebutnya sebagai biaya yang perlu dibayar untuk menetralkan ancaman nuklir Iran.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika lalu lintas kapal melalui Strait of Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas dunia, hampir terhenti sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Jepang, ekonomi terbesar keempat di dunia, juga merupakan pengimpor minyak mentah terbesar kelima. Sekitar 95 persen impor minyaknya berasal dari Timur Tengah, dan sekitar 70 persen biasanya melewati Selat Hormuz.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada 2 Maret bahwa negara tersebut memiliki cadangan minyak darurat yang setara dengan 254 hari konsumsi domestik. Menurut laporan Kyodo News, pemerintah juga mempertimbangkan untuk melepas sebagian cadangan strategis guna menstabilkan pasokan.
Sementara itu, Korea Selatan merupakan pengimpor minyak mentah terbesar keempat di dunia, sedangkan pengimpor terbesar secara global adalah China.
Di sisi lain, mengutip Reuters, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.
Penunjukan ini menandakan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran, sepekan setelah konflik dengan AS dan Israel pecah.
Langkah itu diperkirakan tidak disambut baik oleh Trump, yang sebelumnya menyebut putra Khamenei tersebut sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Dengan belum terlihatnya tanda-tanda berakhirnya konflik di Timur Tengah dan kapal tanker yang masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang lebih tinggi.
“Ekonomi global masih sangat bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz,” ujar Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman. (Aldo Fernando)