Manufaktur RI Terkontraksi, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.995 per USD
Kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal III-2026.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (2/1/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.995 per USD.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal III-2026, mulai dari Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia Mei defisit, Inflasi melonjak, hingga penundaan pengumuman status pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026.
“Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
S&P Global, dalam laporannya mencatat PMI Indonesia menunjukkan penurunan lebih lanjut pada sektor produksi barang. Penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun. Penyebab utama penurunan pada Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun.
Kemudian, lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan. Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.
Dari global, Qatar mengatakan Iran dan AS telah membuat "kemajuan positif" dalam pembicaraan tidak langsung yang berakhir pada Rabu, yang berfokus pada Selat Hormuz. Sumber mengatakan para negosiator AS dan Iran menghabiskan dua hari di Doha untuk membahas lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan pencairan dana Iran. Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Teheran terhadap kapal kargo.
Teheran telah berulang kali mengatakan akan mengenakan bea masuk pada pengiriman pertengahan Agustus, setelah periode bebas bea masuk yang ditentukan pada perjanjian awal berakhir. Lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pasti.
Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 67 persen pada pertemuan September, menurut CME FedWatch Tool.
Dari sisi data, Perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa penggajian swasta meningkat sebesar 98 ribu pada Juni, di bawah ekspektasi pasar sebesar 113 ribu dan turun dari peningkatan 122 ribu yang tercatat pada Mei. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54,0 pada Mei, meleset dari perkiraan pasar sebesar 54,0.
Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen.
Berdasarkan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan melemah pada rentang Rp17.990- Rp18.050 per USD.
(NIA DEVIYANA)