Menakar Prospek Terbaru Saham AADI, Dividen Kestrel Jadi Katalis
Prospek AADI dinilai masih menjanjikan di tengah tingginya harga batu bara dan potensi tambahan arus kas dari divestasi Kestrel.
IDXChannel – Prospek PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dinilai masih menjanjikan di tengah tingginya harga batu bara dan potensi tambahan arus kas dari divestasi Kestrel.
UOB Kay Hian Sekuritas memperkirakan laba bersih AADI tumbuh 48 persen pada 2026, dengan peluang pembagian dividen khusus lebih dari Rp1.450 per saham setelah divestasi Kestrel rampung.
Analis UOB Kay Hian Sekuritas Benyamin Mikael dan Alden Gabriel Lam, dalam riset yang terbit pada 5 Oktober 2026, mempertahankan rekomendasi beli untuk AADI dan menaikkan target harga menjadi Rp14.300 per saham.
Menurut analis, salah satu penopang prospek AADI adalah posisi tambang perseroan yang berada di Kalimantan Selatan, sehingga relatif terhindar dari gangguan di hulu Sungai Barito.
Pengiriman batu bara AADI disebut masih berjalan tanpa gangguan hingga 6 September 2026.
Aset produksi utama AADI, termasuk tambang Adaro Indonesia, berada di Kalimantan Selatan dan memasok batu bara ke Kelanis melalui jalan angkut milik perseroan sepanjang sekitar 80 kilometer.
AADI baru memasuki jalur sungai di stasiun pemuatan Barito bagian tengah dan mengendalikan pengerukan di jalur setelah titik tersebut melalui Sarana Daya Mandiri.
UOB Kay Hian memperkirakan kondisi tersebut menjadi keunggulan bagi AADI ketika gangguan pasokan batu bara terjadi di wilayah lain.
Harga batu bara Newcastle telah naik 37,7 persen sejak konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran dimulai pada Februari 2026.
Harga diperkirakan tetap tinggi hingga paruh kedua 2026 karena bertemunya permintaan musiman dengan gangguan pasokan akibat El Niño.
Dari sisi pasokan, rendahnya permukaan air akibat El Niño membuat sejumlah bagian hulu Barito di Kalimantan Tengah tidak dapat dilalui kapal.
Sejumlah pengirim batu bara telah menyatakan force majeure, sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan sekitar 3,9 juta ton per bulan volume pengangkutan batu bara melalui tongkang berada dalam risiko.
Di sisi permintaan, periode Juli-Oktober biasanya menjadi periode dengan harga batu bara relatif tinggi karena kebutuhan pendinginan di belahan bumi utara bertepatan dengan aktivitas restocking menjelang musim dingin.
Dampak El Niño terhadap produksi listrik tenaga air dan pengisian kembali waduk di India juga berpotensi mendorong negara tersebut kembali meningkatkan pembelian batu bara dari pasar seaborne.
Selain harga batu bara, potensi dividen khusus dari divestasi Kestrel menjadi katalis penting bagi AADI. Proses divestasi masih berlangsung dan diperkirakan dapat rampung pada kuartal I-2027.
UOB Kay Hian memperkirakan, dengan asumsi seluruh dana tunai awal sebesar USD640 juta dibagikan kepada pemegang saham, AADI berpotensi memberikan dividen sekitar Rp1.450 per saham. Nilai tersebut setara dengan dividend yield lebih dari 12 persen.
Di luar potensi dividen khusus, AADI juga memiliki rekam jejak pembagian dividen reguler dengan payout ratio 2025 mencapai 59,2 persen.
Katalis lainnya berasal dari pendapatan sewa pembangkit listrik Kaltara.
Dengan sejumlah katalis tersebut, UOB Kay Hian menaikkan target harga AADI menjadi Rp14.300 per saham. Target tersebut didasarkan pada valuasi 6,3 kali price to earnings (PE) 2027F, setara dengan rata-rata PE ADRO pada periode 2019-2024 sebelum pemisahan AADI.
Meski prospeknya kuat, analis tetap mencermati sejumlah risiko, terutama potensi gangguan pasokan akibat El Niño serta kemungkinan harga batu bara berada di bawah perkiraan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.