MARKET NEWS

Mengintip Prospek Emiten Ritel Jelang Lebaran, Risiko Datang dari Harga Minyak

TIM RISET IDX CHANNEL 16/03/2026 06:08 WIB

Daya beli masyarakat pada periode lebaran 2026 diperkirakan membaik dibandingkan tahun lalu. Namun, kenaikan harga minyak berpotensi menjadi risiko baru.

Mengintip Prospek Emiten Ritel Jelang Lebaran, Risiko Datang dari Harga Minyak. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Daya beli masyarakat pada periode Lebaran 2026 diperkirakan membaik dibandingkan tahun lalu. Namun, kenaikan harga minyak yang berlangsung lebih lama berpotensi menjadi risiko baru bagi pertumbuhan penjualan ritel.

Riset Indo Premier Sekuritas yang dirilis pada 12 Maret 2026 mencatat sejumlah peritel mulai melihat perbaikan kinerja penjualan pada awal tahun ini, seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat menjelang Lebaran.

Manajemen PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menyampaikan penjualan indikatif pada Februari 2026 diperkirakan tumbuh high single digit secara tahunan.

Kinerja tersebut mencerminkan same store sales growth (SSSG) sekitar mid-single digit, yang didorong peningkatan jumlah pengunjung toko serta nilai belanja per transaksi yang lebih besar.

Berdasarkan perkembangan tersebut, Indo Premier memperkirakan SSSG ACES pada kuartal I-2026 dapat pulih ke kisaran mid-single digit secara tahunan, lebih baik dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan juga terlihat pada pengelola Alfamart, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Perusahaan menyampaikan bahwa SSSG Januari 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu, meskipun basis pembanding pada kuartal I-2025 cukup tinggi, yakni 8,6 persen.

Kinerja tersebut antara lain didorong oleh penjualan produk ready-to-drink (RTD) teh yang lebih kuat.

“Secara keseluruhan, kami melihat adanya peningkatan daya beli masyarakat dibandingkan periode Lebaran tahun lalu,” tulis analis Indo Premier dalam riset tersebut.

Namun demikian, Indo Premier menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berkepanjangan dapat menjadi faktor yang menekan kinerja sektor ritel ke depan.

Sebagian besar peritel diskresioner dalam cakupan riset Indo Premier menyasar segmen kelas menengah hingga menengah atas. Jika harga BBM terus meningkat, daya beli kelompok konsumen ini berpotensi tergerus.

Situasi serupa pernah terjadi pada periode kuartal IV-2022 hingga kuartal I-2023, ketika ACES dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatat perlambatan pertumbuhan SSSG di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax.

Untuk AMRT, risiko juga dapat muncul jika pemerintah menaikkan harga BBM subsidi Pertalite. Meski pada kuartal III-2022 dampaknya relatif terbatas karena kenaikan harga barang kebutuhan pokok mampu menutupi tekanan tersebut.

Saat ini, sejumlah perusahaan barang kebutuhan pokok (staples) yang ditemui Indo Premier menyatakan belum memiliki rencana menaikkan harga produk.

Jika kondisi tersebut bertahan, pertumbuhan SSSG AMRT berpotensi melambat apabila harga Pertalite naik.

Indo Premier memperkirakan setiap penurunan 1 persen SSSG dapat menekan laba 2026 masing-masing emiten ritel. Dampaknya diperkirakan mencapai -5 persen untuk MAPI, -3,8 persen untuk ACES, dan -4,5 persen untuk AMRT, dengan asumsi faktor lain tidak berubah.

Dari sisi valuasi, Indo Premier mencatat sektor ritel saat ini diperdagangkan pada forward price to earnings (PE) 12 bulan sekitar 11,6 kali, atau sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Valuasi tersebut mendekati level yang pernah terlihat pada masa pandemi Covid-19, sehingga potensi penurunan harga saham dinilai relatif terbatas.

Meski demikian, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor ritel, mengingat risiko dari harga minyak yang tinggi masih membayangi pertumbuhan penjualan.

Dalam pemeringkatan saham pilihan, Indo Premier menempatkan MAPI sebagai pilihan utama, diikuti ACES dan AMRT.

Risiko utama yang perlu diperhatikan investor adalah pertumbuhan SSSG yang lebih lemah dari perkiraan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE