Nasdaq Ditutup Menguat 1,3 Persen, Saham Micron dkk Melejit
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026) waktu setempat dengan Nasdaq memimpin kenaikan.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026) waktu setempat. Indeks Nasdaq memimpin penguatan setelah reli saham semikonduktor mengimbangi kekhawatiran investor terhadap meningkatnya konflik antara AS dan Iran.
Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 naik 0,81 persen ke level 7.543,66, Nasdaq menguat 1,30 persen menjadi 26.206,89, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,27 persen ke 52.487,41. Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup di zona hijau dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 1,65 persen, disusul sektor consumer discretionary yang naik 1,46 persen.
Analis Strategi Investasi Baird, Ross Mayfield menilai, pasar masih berada dalam fase bullish yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Saat ini pasar masih bullish AI. Namun, penguatan yang lebih luas bergantung pada harga minyak dan suku bunga yang tetap terkendali. Ketegangan di Timur Tengah membuat prospek tersebut kembali dipertanyakan," ujarnya dikutip dari Reuters.
Indeks semikonduktor PHLX (.SOX) melonjak 3,06 persen untuk hari kedua berturut-turut. Penguatan dipimpin oleh saham Micron Technology yang melesat 4,5 persen setelah mengumumkan rencana investasi lebih dari USD250 miliar di AS hingga 2035 guna memenuhi lonjakan permintaan chip memori untuk AI. Saham Applied Materials naik 3,2 persen, sedangkan Sandisk melesat 7,6 persen.
Saham Meta Platforms turut menguat setelah Reuters melaporkan perusahaan tersebut berencana memproduksi chip AI mulai September mendatang. Laporan tersebut kembali mengangkat sentimen positif terhadap saham-saham teknologi.
Sepanjang 2026, S&P 500 telah menguat sekitar 10 persen dan kini hanya berjarak kurang dari 1 persen dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni lalu. Menjelang musim laporan keuangan kuartalan, analis memperkirakan laba emiten dalam indeks S&P 500 tumbuh rata-rata 24 persen secara tahunan, dengan sektor teknologi menjadi kontributor utama.
Di sisi makroekonomi, jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di AS turun pada pekan lalu yang menandakan pasar tenaga kerja masih relatif stabil meski pertumbuhan lapangan kerja melambat pada Juni. Di saat yang sama, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan sejumlah pejabat sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya memutuskan mempertahankannya.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember 2026. Di sisi lain, rasio price-to-earnings (P/E) forward S&P 500 turun menjadi sekitar 20 kali dari 21 kali sebulan sebelumnya, mencerminkan valuasi pasar yang sedikit lebih moderat.
Meski demikian, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian setelah Teheran mengklaim menyerang target militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS ke Iran sehari sebelumnya. Namun, sentimen positif dari sektor chip dan AI mampu mengimbangi kekhawatiran tersebut sehingga mendorong penguatan Wall Street.
(Rahmat Fiansyah)