MARKET NEWS

OJK Kantongi 29 Rencana Penawaran Umum Baru Senilai Rp26,47 Triliun per Akhir September 2026

Rohman Wibowo 06/10/2026 08:56 WIB

Terdapat 29 rencana Penawaran Umum dalam antrean (pipeline) dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun per akhir September 2026.

OJK Kantongi 29 Rencana Penawaran Umum Baru Senilai Rp26,47 Triliun per Akhir September 2026 (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan terdapat 29 rencana Penawaran Umum dalam antrean (pipeline) dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun per akhir September 2026. 

Masih tingginya minat korporasi memobilisasi dana di pasar modal ini digadang-gadang menjadi penopang utama realisasi target penghimpunan dana nasional yang dipatok sebesar Rp250 triliun hingga pengujung tahun.

Otoritas mencatat minat korporasi dalam menghimpun pendanaan di pasar modal tetap bergairah mendekati akhir tahun 2026. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya rencana aksi korporasi yang siap melantai di bursa domestik dalam beberapa waktu ke depan.

"Saat ini pada pipeline terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun, yang diharapkan dapat menopang pencapaian target penghimpunan dana sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (6/10/2026).

Hingga penutupan kuartal ketiga tahun ini, penyerapan dana segar melalui berbagai instrumen penawaran umum telah mendekati target tahunan yang dicanangkan regulator.

Kendati demikian, pencapaian target akhir tahun tetap bergantung pada kalkulasi cermat para pelaku usaha dalam membaca situasi pasar keuangan.

"Secara kumulatif nilai Penawaran Umum telah mencapai Rp186,03 triliun, dan kami terus mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai alternatif pembiayaan dengan tetap mengedepankan kualitas keterbukaan informasi serta pelindungan investor," kata Friderica.

Realisasi penghimpunan dana sebesar Rp186,03 triliun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) tersebut bersumber dari 7 Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 18 Penawaran Umum Terbatas (PUT/rights issue), 11 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), serta 123 Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) EBUS. 

OJK menilai pergerakan pemenuhan target hingga akhir 2026 akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar sekunder, minat investor, serta pertimbangan emiten terkait momentum penerbitan dan biaya pendanaan.

Kinerja bursa saham sepanjang September 2026 sendiri bergerak cukup menantang akibat eskalasi tensi geopolitik kawasan dan berlanjutnya tren kenaikan suku bunga acuan global. Situasi tersebut menekan pergerakan indeks acuan dan memicu pelepasan kepemilikan aset oleh investor asing.

"Meskipun IHSG terkoreksi ke level 6.071,14 dan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp10,24 triliun, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik terpantau tetap manageable," tutur Friderica.

Tekanan global menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,96 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan merosot 29,79 persen ytd. Aksi jual bersih pemodal luar negeri tercatat Rp10,24 triliun, berbalik arah dari posisi Agustus 2026 yang membukukan beli bersih (net buy) Rp1,19 triliun. 

Namun, rata-rata bid-ask spread saham relatif terjaga stabil di level 1,20 persen dibanding bulan sebelumnya 1,17 persen, kendati Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) termoderasi menjadi Rp14,94 triliun dari Agustus sebesar Rp15,86 triliun.

Dinamika serupa terjadi di pasar obligasi, ditandai penurunan tipis Indonesia Composite Bond Index (ICBI) sebesar 0,23 persen mtm dan 0,41 persen ytd ke posisi 439,05. Rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) terkerek naik 14,12 basis poin mtm seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global, dengan net sell investor asing di pasar SBN yang terbatas sebesar Rp0,34 triliun mtm (Agustus 2026: net buy Rp15,35 triliun).

Sebaliknya, aliran dana pemodal asing di pasar EBUS korporasi membukukan net buy senilai Rp0,91 triliun mtm, membalikkan posisi net sell Rp0,02 triliun pada bulan sebelumnya.

Di sektor pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) terkoreksi 1,55 persen mtm dan 3,65 persen ytd menjadi Rp1.004,68 triliun per akhir September. 

Penurunan juga dialami Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana sebesar 2,42 persen mtm dan 5,66 persen ytd ke angka Rp637,07 triliun, diiringi aksi penarikan dana pemodal (net redemption) sebesar Rp10,43 triliun mtm.

Di sisi lain, diversifikasi instrumen investasi dan penambahan pemodal baru terus menunjukkan tren ekspansi yang solid di tengah fluktuasi pasar surat utang serta reksa dana. Penguatan ekosistem digital terbukti menjadi motor utama dalam memperluas penetrasi kepemilikan efek di kalangan masyarakat.

"Basis pemodal terus menguat dengan pertumbuhan mencapai 32,17 juta investor per September, didukung hadirnya inovasi produk baru seperti tujuh ETF Emas senilai Rp105,63 miliar," kata Friderica.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE