OJK Ungkap 4 Faktor yang Menekan IHSG Sejak Awal 2026, Geopolitik hingga MSCI
Eskalasi geopolitik membawa dampak pada distribusi komoditas, terutama energi, hingga memicu tekanan inflasi global dan fiskal serta moneter di banyak negara.
IDXChannel - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengungkapkan 4 penyebab yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level All Time High (ATH) di level 9.000 pada awal tahun, ke level 6.000-an menjelang pertengahan 2026.
Hasan mengatakan ada empat kombinasi yang menjadi pemberat IHSG, yaitu konflik geopolitik dan konflik Timur tengah, inflasi global meningkat, transparansi pasar modal yang menjadi sorotan indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), hingga kekhawatiran soal integritas di pasar domestik.
"Sejak awal 2026 kita menyaksikan dinamika pasar yang berujung pada volatilitas tinggi di pasar modal Indonesia. Bahkan belakangan muncul tekanan yang cukup berat di pasar," ujarnya dalam acara MNC Forum di Jakarta Concert Hall iNews Tower, Kamis (21/5/2026).
Hasan menjelaskan, eskalasi geopolitik membawa dampak pada distribusi komoditas, terutama energi, hingga memicu tekanan inflasi global dan tekanan fiskal serta moneter di banyak negara, termasuk Indonesia. Belum lagi nilai mata uang di negara kawasan juga ikut melemah dari adanya konflik tersebut.
"Sehingga membuat tekanan untuk saham-saham terkait di pasar modal," kata Hasan.
Tekanan indeks selanjutnya juga datang dari sorotan penyedia indeks provider global terkait aspek transparansi, free float, hingga likuiditas di pasar saham Indonesia. Sebab hal tersebut menjadi sebuah penilaian suatu saham layak untuk diinvestasikan atau tidak.
Hasilnya, penyedia indeks provider global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan 18 saham Indonesia dari konstituen indeks karena dianggap sejumlah saham tersebut kurang investable . Dampaknya dana-dana asing ikut keluar dari saham yang keluar dari indeks, dan memicu tekanan jual dari para investor.
"Jika kita tidak cepat merespons menghadirkan keyakinan kepada para investor global melalui indeks provider global tersebut, maka selain kemungkinan saham-saham kita tidak lagi masuk dalam anggota konstiruen, bahkan ada ancaman untuk menurunkan klasifikasi pasar kita ke tingkat yang lebih rendah," kata Hasan.
Tidak hanya itu, investor global juga mengkhawatirkan terkait aspek tata kelola dan integritas di pasar modal Indonesia. Hal itu terjadi karena adanya keraguan terhadap tingkat investability pasar modal RI, terutama terkait kesesuaian data free float saham yang tersedia di publik dengan realitas di lapangan.
Hasan mengaku, sebelumnya investor global mengalami kesulitan untuk mendapatkan saham-saham yang menjadi anggota indeks karena indikasi ketidaksesuaian data kepemilikan saham yang selama ini disampaikan.
"Kombinasi faktor global, persoalan transparansi, integritas informasi, serta tantangan likuiditas inilah yang akhirnya memicu koreksi signifikan terhadap IHSG," kata dia.
Namun demikian, Hasan mengatakan volatilitas di pasar saham bukanlah fenomena baru. Hal tersebut merupakan siklus yang menjadi momentum untuk membangun fondasi dan tata kelola yang lebih baik untuk menciptakan pertumbuhan di kemudian hari.
"Menjadi pelajaran penting bahwa integritas tidak boleh dikorbankan demi pertumbuhan jangka pendek," ujar Hasan.
(NIA DEVIYANA)