Operasional dan Potensi Masuk Indeks GDX Jadi Katalis Saham Merdeka Gold (EMAS)
Prospek peningkatan produksi pada semester II-2026 serta potensi masuk ke indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) dinilai menjadi katalis positif bagi saham EMAS.
IDXChannel – Prospek peningkatan produksi pada semester II-2026 serta potensi masuk ke indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) dinilai menjadi katalis positif bagi saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang diterbitkan pada 9 Juli 2026 menjelaskan, pelemahan harga emas akibat lonjakan indeks dolar AS (DXY) dan sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) telah menekan valuasi EMAS, termasuk saat pencatatan saham ganda (dual listing) di Bursa Hong Kong pada pertengahan Juni 2026.
Harga emas telah turun sekitar 5 persen sejak awal tahun ke kisaran USD4.000 per ons, setelah sempat menyentuh rekor USD5.500 per troy ons pada Januari 2026.
Kondisi tersebut membuat kapitalisasi pasar EMAS saat dual listing hanya sekitar USD5 miliar, lebih rendah dibandingkan sekitar USD6 miliar ketika rencana pencatatan diumumkan.
Meski demikian, Indo Premier tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Menurut analis, lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS) diperkirakan bersifat sementara karena terutama dipicu kenaikan harga energi.
Selain itu, potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September 2026 dinilai sudah tercermin dalam koreksi harga emas belakangan ini.
Di sisi operasional, produksi dan penjualan emas EMAS diperkirakan akan lebih banyak terjadi pada paruh kedua 2026.
Berdasarkan diskusi dengan manajemen, tingkat perolehan emas (recovery rate) pada semester pertama diperkirakan masih berada di bawah kisaran normal 70-80 persen karena proyek heap leach masih dalam tahap peningkatan produksi (ramp-up).
Kondisi tersebut diperkirakan membuat biaya tunai (cash cost) dan biaya pemeliharaan menyeluruh atau all-in sustaining cost (AISC) pada semester pertama lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar USD1.200 per ons.
Selain itu, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas tahun ini juga diperkirakan hanya mencapai USD4.100 per ons, lebih rendah dari rata-rata harga emas sepanjang 2026 yang sekitar USD4.600 per ons karena sebagian besar penjualan diproyeksikan baru terjadi pada semester kedua, setelah harga emas melewati puncaknya.
Indo Premier juga menilai EMAS berpeluang masuk ke indeks GDX setelah mulai membukukan pendapatan dari penjualan emas pada laporan keuangan kuartal II-2026.
Berdasarkan kajian mereka, seluruh konstituen GDX merupakan operator tambang emas yang telah menghasilkan pendapatan dari emas, sementara EMAS hingga laporan kuartal I-2026 belum mencatatkan pendapatan tersebut.
Jika mulai memenuhi kriteria tersebut, EMAS berpotensi masuk dalam peninjauan indeks GDX pada September 2026. Namun, analis memperkirakan harga saham EMAS perlu berada di kisaran Rp7.500-Rp8.000 per saham agar peluang tersebut semakin besar.
Meski menurunkan proyeksi laba bersih 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 36 persen dan 29 persen akibat asumsi harga emas yang lebih rendah, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga baru Rp7.300 per saham dari sebelumnya Rp9.000 per saham. (Aldo Fernando)