MARKET NEWS

Penguatan Dolar AS Ubah Strategi Investasi, Sektor Ini Dinilai Menarik

TIM RISET IDX CHANNEL 14/07/2026 06:45 WIB

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan prospek suku bunga yang diperkirakan bertahan tinggi dinilai mengubah strategi investasi di pasar saham Indonesia.

Penguatan Dolar AS Ubah Strategi Investasi, Sektor Ini Dinilai Menarik. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan prospek suku bunga yang diperkirakan bertahan tinggi dinilai mengubah strategi investasi di pasar saham Indonesia.

Di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya biaya dana perbankan, emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar AS dinilai menawarkan prospek yang lebih menarik dibandingkan saham perbankan.

Pandangan tersebut disampaikan Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas, Arief Putra, dalam riset yang diterbitkan pada 10 Juli 2026.

Menurut dia, investor sebaiknya mulai mengurangi posisi overweight pada saham perbankan dan meningkatkan alokasi ke emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS.

Sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD), dolar AS telah menguat sekitar 8 persen terhadap rupiah.

Arief menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu tantangan fiskal domestik, tetapi juga derasnya arus modal global ke saham-saham kecerdasan buatan (AI) di AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong lonjakan harga energi.

Kombinasi faktor tersebut memperkuat permintaan global terhadap likuiditas dolar AS.

"Meski rupiah telah melemah dan suku bunga domestik meningkat, kami menilai risiko penurunannya masih ada. Karena itu, kami menyarankan investor mengurangi posisi overweight di saham perbankan dan meningkatkan alokasi pada emiten dengan pendapatan dolar AS," tulis Arief dalam risetnya.

Sucor memperkirakan permintaan terhadap dolar AS masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap tambahan kenaikan suku bunga acuan AS.

Di sisi lain, potensi terjadinya fenomena El Niño yang lebih parah juga dinilai dapat mempertahankan tingginya harga pangan global. Kondisi tersebut berisiko menjaga tekanan inflasi sehingga kebutuhan terhadap likuiditas dolar AS tetap besar.

Arief juga mencatat tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mata uang lain seperti yen Jepang, rupee India, dan lira Turki turut tertekan akibat tingginya harga energi serta perpindahan arus modal menuju saham-saham AI di AS.

Selain tekanan dari sisi nilai tukar, Sucor melihat likuiditas rupiah di dalam negeri juga semakin ketat. Indikasinya terlihat dari sejumlah bank besar yang menawarkan bunga deposito di atas 8,5 persen per tahun.

Menurut Arief, kondisi tersebut dipengaruhi oleh penyerapan likuiditas oleh bank sentral yang bertepatan dengan tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah untuk menutup defisit fiskal.

Akibatnya, biaya dana (cost of fund) perbankan berpotensi tetap tinggi apabila suku bunga bertahan pada level saat ini dalam jangka waktu lebih lama.

Pada saat yang sama, meningkatnya beban pembayaran utang juga diperkirakan dapat memberi tekanan terhadap kualitas aset perbankan.

Meski bank-bank besar dinilai masih memiliki fundamental yang kuat, Sucor menilai rasio risiko dan imbal hasil (risk-reward) sektor ini kurang menarik dalam jangka pendek.

Meski demikian, Sucor menegaskan tidak semua emiten berpendapatan dolar AS layak dikoleksi. Perusahaan yang dipilih harus memiliki risiko refinancing yang rendah atau akses yang kuat ke pasar pendanaan luar negeri.

Selain itu, emiten juga harus mampu menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) yang sehat agar tetap tangguh menghadapi kondisi makro sekaligus mampu memanfaatkan peluang yang muncul.

Dalam kondisi tersebut, Sucor tetap mempertahankan pandangan positif terhadap sektor energi dan logam yang dinilai telah terkoreksi cukup dalam meski fundamentalnya masih kuat.

Lima saham pilihan utama Sucor Sekuritas meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE