Peringatan MSCI Tekan Pasar, Goldman Sachs Downgrade Saham Indonesia
Analis Goldman Sachs Group Inc memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
IDXChannel – Analis Goldman Sachs Group Inc memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
Langkah ini diambil seiring peringatan bahwa kekhawatiran MSCI terkait aspek investabilitas berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari USD13 miliar (Rp217 triliun) jika pasar Indonesia diturunkan statusnya menjadi pasar frontier.
Melansir dari Bloomberg, bank investasi Wall Street itu memperkirakan, dalam skenario ekstrem ketika Indonesia direklasifikasi dari pasar berkembang (emerging market/EM), dana pasif (passive fund) yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan melepas aset hingga USD7,8 miliar (Rp130 triliun)
Selain itu, arus keluar tambahan sebesar USD5,6 miliar juga bisa terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia.
“Kami memperkirakan penjualan pasif masih berlanjut dan menilai perkembangan ini menjadi beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis para analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya.
Dalam catatan terpisah, Goldman Sachs menambahkan bahwa manajer dana aktif (active fund manager) regional saat ini berada pada posisi overweight di pasar Indonesia.
Karena itu, potensi penurunan status pasar, yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan kemungkinan berkurangnya likuiditas, diperkirakan mendorong investor long-only untuk menyeimbangkan ulang portofolionya. Situasi ini juga berpotensi memicu arus spekulatif dari hedge fund.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 7,4 persen pada Rabu setelah MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menuntaskan isu kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada perusahaan tercatat. MSCI menyoroti adanya “masalah fundamental dari sisi investabilitas”.
Inti persoalan tersebut adalah kekhawatiran terhadap rendahnya free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar, yang belakangan menjadi sorotan utama dalam penilaian terhadap saham-saham Indonesia. (Aldo Fernando)