Potensi Infrastruktur AI Membesar, Dua Emiten Telko Ini Berpotensi Cuan
Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara seiring kebutuhan komputasi dan data center.
IDXChannel - Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara seiring kebutuhan komputasi dan data center (DC) yang meningkat pesat.
Di tengah keterbatasan pasokan listrik dan lahan di sejumlah pasar, Indonesia dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk menampung gelombang ekspansi berikutnya.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Bob Setiadi, Rut Yesika Simak, dan Elizabeth Noviana mengatakan akselerasi permintaan AI saat ini berlangsung lebih cepat dibandingkan pembangunan infrastrukturnya.
Menurut mereka, kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia, terutama karena negara ini memiliki tarif listrik yang kompetitif, ketersediaan lahan yang relatif melimpah, serta pasar domestik yang besar.
“Peluang AI di Indonesia bukan sekadar cerita semikonduktor, melainkan lebih kepada infrastruktur, listrik, konektivitas, dan adopsi oleh perusahaan,” tulis ketiganya dalam riset bertajuk SEA’s Next Major AI Infrastructure Markets pada 24 Agustus 2026.
Potensi tersebut tercermin dari impor yang berkaitan dengan AI. CGSI mencatat impor produk yang menjadi proksi aktivitas AI Indonesia mencapai sekitar USD2,5 miliar pada 2025, melonjak 200 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat di antara pasar utama Asia Tenggara.
Kapasitas Data Center Berpotensi Melonjak
Indonesia juga tengah memasuki fase ekspansi kapasitas data center yang agresif.
Mengutip Indonesian Data Centre Providers Association (IDPRO), CGSI memperkirakan kapasitas data center Indonesia hampir tiga kali lipat menjadi 1,7 gigawatt (GW) pada akhir 2026 dari sekitar 650 megawatt (MW) pada Agustus 2026.
Sejak 2018 hingga Agustus 2026, Indonesia telah menarik sekitar USD15 miliar komitmen investasi terkait AI dan data center. Sejumlah investasi tersebut berasal dari perusahaan teknologi global, termasuk Amazon Web Services (AWS) sekitar USD5 miliar dan Microsoft sekitar USD1,7 miliar.
Indonesia juga mulai menarik investasi dari pemain AI NeoCloud, yakni penyedia infrastruktur komputasi yang menawarkan kapasitas AI secara fleksibel.
Pada Agustus 2026, Zankore, perusahaan patungan Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, mengumumkan rencana pengembangan kapasitas AI hingga 1 GW di Asia Tenggara. Tahap pertama di Indonesia diproyeksikan mencapai 200 MW dan ditargetkan beroperasi pada semester I-2027.
Sementara itu, CoreWeave berencana menambah kapasitas sebesar 360 MW melalui tiga fasilitas data center di Indonesia, dengan kapasitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2028.
ISAT Jadi Kandidat Utama
Di tengah perkembangan tersebut, CGSI menilai PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu emiten yang paling berpotensi menikmati pertumbuhan ekosistem AI dan data center.
“ISAT dinilai menjadi emiten yang paling berpotensi diuntungkan dari peluang ini,” tulis analis CGSI.
Penilaian tersebut didukung oleh platform ISAT yang dinilai dapat diskalakan, komitmen perseroan mengembangkan bisnis AI NeoCloud, serta kepemilikan minoritas di BDx Indonesia.
BDx Indonesia merupakan salah satu platform data center besar di Indonesia yang melayani pelanggan hyperscaler maupun perusahaan.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga memiliki eksposur terhadap pertumbuhan data center. CGSI mencatat TLKM memiliki sekitar 50 MW kapasitas data center pada semester I-2026, dengan sekitar 33 MW berada di Indonesia.
Perseroan masih memiliki tambahan kapasitas 39,5 MW yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027. TLKM juga tengah mencari peluang untuk membuka nilai bisnis data centernya melalui kemitraan strategis.
Sederet Nama Lainnya
Selain ISAT dan TLKM, sejumlah emiten lokal lain di BEI juga tercatat sebagai penerima manfaat di sepanjang rantai nilai atau value chain data center.
Berdasarkan riset CGSI, para pemain tersebut tersebar di segmen kontraktor/engineering solution seperti PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI).
Kemudian, real estate lewat PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA).
Selanjutnya, di samping ISAT dan TLKM, operator/owners data center termasuk PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV).
Nama-nama lainnya, perusahaan kabel bawah laut melalui PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), serta Ketrosden Triasmitra (KETR); hingga utilitas yang diwakili PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR).
“Catch the gorilla,” demikian kata CGSI dalam riset tersebut.
Maksudnya, peluang terbesar dari perkembangan AI di Indonesia berada pada perusahaan yang mampu menyediakan infrastruktur, listrik, konektivitas, dan kapasitas komputasi dalam skala besar. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.