MARKET NEWS

Praktisi Investasi Bandingkan Mindset Investor Indonesia dan Global, Ini Bedanya

Taufan Sukma Abdi Putra 09/07/2026 17:51 WIB

Data OJK semakin menegaskan bahwa dunia investasi Tanah Air kini lebih didominasi oleh kiprah generasi muda, yang terdiri dari Gen Z dan juga kalangan Milenial.

Praktisi Investasi Bandingkan Mindset Investor Indonesia dan Global, Ini Bedanya (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Dunia investasi Tanah Air memang telah menunjukkan tingkat keikutsertaan generasi muda secara lebih signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Misalnya di industri pasar modal domestik, di mana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa sekitar 80 persen investor baru di Indonesia berusia di bawah 30 tahun, dengan  lebih dari 54 persen dari total investor aktif berada di kelompok usia muda.

Data ini semakin menegaskan bahwa dunia investasi Tanah Air kini lebih didominasi oleh kiprah generasi muda, yang terdiri dari Gen Z dan juga kalangan Milenial.

Meski demikian, di tengah tren meningkatnya kesadaran dalam berinvestasi tersebut, kalangan praktisi investasi masih melihat adanya perbedaan mencolok dalam hal sudut pandang (mindset) yang dimiliki investor dalam negeri dan investor global secara umum.

"Ada perbedaan besar dan mendasar pada budaya investasi di Indonesia, dengan di AS (Amerika Serikat), di Eropa, dan negara-negara maju lain di dunia. Dan tentu, itu jadi sangat berpengaruh pada orientasi berinvestasinya akan seperti apa," ujar Praktisi Investasi Global, Vier Abdul Jamal, dalam sebuah Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa, Rabu (8/7/2026).

Vier menjelaskan bahwa mayoritas investor di negara-negara maju bukan lagi menempatkan aktivitas berinvestasi sebagai sebuah pilihan, melainkan sudah sebagai kebutuhan hidup yang memang harus dipenuhi.

Konsekuensi logis dari sudut pandang itu, menurut Vier, adalah kesanggupan investor luar negeri untuk menempatkan dana investasinya dalam jangka panjang, untuk kemudian fokus pada pertumbuhan aset dan kekayaan dalam periode 10 hingga 30 tahun ke depan.

Karenanya, riak-riak kecil dalam berinvestasi yang terjadi secara temporer, misalnya saja terkait potensi return jangka pendek atau justru tren pelemahan sesaat, tidak akan menjadi concern yang menentukan bagi investor global.

Sementara, mayoritas investor Indonesia dalam pandangan Vier masih menempatkan investasi sebagai tools untuk mempercepat capaian kekayaan, sehingga yang menjadi concern lebih pada keuntungan jangka pendek.

"Sebaliknya, penurunan kecil saja dalam jangka pendek, sudah membuat panik, karena orientasinya hanya jangka pendek. Risikonya, karena panik, kita justru tidak sabar untuk menjual (saham) saat harga masih turun, dan asal beli justru saat harga masih tinggi," ujar Vier.

Selain itu, dengan menempatkan aktivitas investasi sebagai sarana agar cepat kaya, maka investor Indonesia juga kerap terjebak dengan pada skema trading harian, dengan tingkat spekulasi yang relatif tinggi.

Belum lagi, iming-iming keuntungan berlipat dengan waktu yang relatif cepat dari para pelaku investasi ilegal dan investasi bodong, seringkali terlihat menggiurkan, meski pada dasarnya sudah terlihat sangat tidak logis.

Karenanya, berbekal penilaian tersebut, Vier menilai bahwa program edukasi dan peningkatan literasi masih menjadi kebutuhan mendesak bagi industri investasi di Indonesia, di tengah keterlibatan generasi muda yang terus berkembang.

"Karena faktanya, meski investor muda terus bertumbuh, namun tingkat literasi kita masih jauh lebih rendah dibanding investor di negara-negara maju. Ini yang harus kita kejar. Jadi, untuk kuantitas keterlibatan (masyarakat/generasi muda) kita sudah ada kemajuan, tapi soal kualitas (literasi) ini jangan juga sampai terlupakan," ujar Vier.

(taufan sukma)

SHARE