Prospek Harga Minyak Dunia usai AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah diperkirakan bereaksi terbatas terhadap perkembangan di Venezuela, karena pasar masih dibayangi kelebihan pasokan.
IDXChannel – Kontrak berjangka (futures) minyak mentah diperkirakan bereaksi terbatas terhadap perkembangan di Venezuela, karena pasar masih dibayangi kelebihan pasokan yang besar.
Pelaku pasar kini lebih mencermati level teknikal kunci serta pertemuan OPEC untuk menentukan arah harga minyak pekan ini.
Kepala Analis A/S Global Risk Management, Arne Lohman Rasmussen, menilai kenaikan harga Brent pada pembukaan perdagangan Minggu malam hanya akan bersifat marginal.
“Saya menilai harga Brent hanya naik tipis saat pembukaan Minggu malam, sekitar USD1-USD2 per barel atau bahkan lebih kecil,” ujar Rasmussen, dikutip Bloomberg, Sabtu (3/1/2026).
Ia menambahkan, bahkan dalam kondisi normal sekalipun, gangguan dengan skala seperti ini masih dapat dikelola pasar.
“Terlebih, seluruh proyeksi mengarah pada kelebihan pasokan yang signifikan pada kuartal pertama, dipicu oleh permintaan musiman yang lemah serta peningkatan produksi OPEC+,” katanya.
Sementara, Strategist UBS Giovanni Staunovo mengatakan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, namun ekspor dan produksi Venezuela mulai berada di bawah tekanan menyusul blokade kapal tanker minyak oleh AS, dengan risiko tren pelemahan ini berlanjut.
Sementara itu, Chief Executive Vanda Insights yang berbasis di Singapura, Vandana Hari, menyebut implikasi langsung terhadap pasar minyak relatif minimal. Menurutnya, dampaknya tidak lebih dari sekadar kenaikan kecil pada premi risiko Venezuela.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Trump mengatakan Maduro bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan ke luar negeri,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Pemerintah Venezuela, dalam pernyataannya, menuding tujuan serangan tersebut adalah untuk mengambil alih minyak dan mineral negara itu.
Pemerintah menegaskan AS tidak akan berhasil merebut sumber daya tersebut. AS sendiri menuduh Venezuela membantu perdagangan narkotika.
Pemerintahan Trump diketahui meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela melalui blokade maritim.
Analis Energy Aspects, Amrita Sen, mengatakan serangan-serangan tersebut tidak secara langsung menargetkan fasilitas minyak.
Namun, serangan sebelumnya terhadap kapal serta sanksi dan blokade terbaru telah menyebabkan produksi turun sekitar 25 persen.
“Dampaknya terhadap harga minyak tidak akan terlalu besar karena stok diperkirakan meningkat signifikan. Namun, gangguan pasokan tak terduga di Venezuela, Rusia, dan Kazakhstan terus bertambah dan akan menggerus akumulasi stok tersebut,” ujar Sen kepada The National.
Lebih lanjut, analis FX Empire James Hyerczyk menilai kelebihan pasokan yang besar masih menjadi faktor dominan, sehingga risiko geopolitik tersebut hanya memberi dampak terbatas pada pergerakan harga.
Hyerczyk mengatakan, harga minyak mentah diperkirakan hanya bergerak tipis saat perdagangan dibuka kembali pada Minggu malam.
Brent diproyeksikan naik sekitar USD1-USD2 per barel, atau bahkan berpotensi melemah sepanjang pekan.
Produksi Venezuela yang kini di bawah 1 juta barel per hari, dengan ekspor sekitar setengahnya, dinilai terlalu kecil untuk mengubah keseimbangan pasar global yang tengah dibanjiri pasokan.
Ia menambahkan, pasar memasuki awal 2026 dengan proyeksi surplus 2-4 juta barel per hari. Kondisi ini membuat harga WTI tertahan di kisaran rendah hingga menengah USD50 per barel, meskipun tensi geopolitik meningkat.
Dari sisi teknikal, Hyerczyk menilai pasar minyak sudah bersiap menghadapi pergerakan volatil setelah bergerak mendatar pada akhir 2025.
Garis moving average 50 (MA-50) hari menjadi level kunci. Jika ditembus, harga berpotensi menguat lebih jauh. Namun jika gagal bertahan, tekanan jual berisiko kembali membawa harga ke area yang lebih rendah.
Berbeda dengan pasar global, kilang minyak di Pantai Teluk AS menghadapi tantangan tersendiri.
Gangguan pasokan minyak berat Venezuela dapat memperketat segmen pasar tersebut, mengingat banyak kilang AS masih bergantung pada campuran minyak berat impor dengan minyak serpih domestik.
Untuk jangka menengah hingga panjang, Hyerczyk menilai ketidakpastian justru berpotensi menekan harga minyak.
Jika sanksi dicabut dan investasi asing kembali masuk, Venezuela berpeluang meningkatkan ekspor hingga mendekati 3 juta barel per hari, yang akan menambah pasokan global.
Namun untuk pekan ini, fokus pelaku pasar tetap tertuju pada faktor utama lain, terutama hasil pertemuan OPEC+ dan level teknikal kunci.
Kabar terbaru, OPEC+ sepakat mempertahankan tingkat produksi minyak pada pertemuan Minggu, demikian pernyataan resmi kelompok tersebut, meski terdapat ketegangan politik antara anggota kunci seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta penangkapan Presiden Venezuela oleh AS.
Pertemuan delapan negara anggota OPEC+ yang menyumbang sekitar separuh pasokan minyak dunia itu berlangsung setelah harga minyak anjlok lebih dari 18 persen sepanjang 2025.
Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 2020, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global.
“Selama kelebihan pasokan masih mendominasi, risiko geopolitik cenderung hanya menjadi gangguan sementara,” ujar Hyerczyk. (Aldo Fernando)