Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Pasar Cermati Data Inflasi AS
Harga emas dunia berpotensi bergerak volatil pekan ini. Investor akan mencermati serangkaian data inflasi Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Harga emas dunia berpotensi bergerak volatil pekan ini. Investor akan mencermati serangkaian data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot tertekan pada perdagangan Jumat (4/9/2026) setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Harga emas spot turun 0,96 persen menjadi USD4.429,82 per troy ons pada Jumat lalu. Secara mingguan, emas terkoreksi 0,56 persen.
Setelah data tenaga kerja dirilis, harga emas bahkan sempat anjlok lebih dari 2 persen ke level intraday USD4.364,99 per troy ounce.
Data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen. Kondisi tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup solid sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini kembali terbuka.
"Emas terpukul cukup parah karena data utama yang kuat dan laporan secara keseluruhan membuat kenaikan suku bunga pada September jauh lebih mungkin, kecuali data CPI menunjukkan hasil yang lemah," ujar analis independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam rapat 15-16 September mencapai sekitar 65 persen, naik dari sekitar 55 persen sebelum data tenaga kerja AS dirilis.
Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke data inflasi AS. Data Producer Price Index (PPI) akan dirilis Kamis (10/9), disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9). Kedua data tersebut berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan emas sepanjang pekan.
Jika inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan berpotensi menekan emas karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dapat kembali menghidupkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan ruang bagi emas untuk menguat.
Survei Kitco News juga menunjukkan pelaku pasar masih terbelah dalam melihat prospek emas pekan ini.
Dari 16 analis Wall Street, enam analis atau 38 persen memperkirakan harga emas naik, lima analis atau 31 persen memprediksi penurunan, sementara lima lainnya atau 31 persen memperkirakan emas bergerak sideways dan volatil.
Sentimen investor ritel cenderung lebih bullish, meski mulai berkurang. Dari 220 suara dalam survei Kitco, sebanyak 120 investor atau 55 persen memperkirakan harga emas naik pekan ini. Sebanyak 53 investor atau 24 persen memproyeksikan penurunan, sedangkan 47 investor atau 21 persen memperkirakan harga emas berkonsolidasi. (Aldo Fernando)