Proyeksi Harga Saham GOTO usai Lepas dari Level Gocap
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memasuki babak baru setelah batas bawah harga Rp50 per saham atau gocap dihapus.
IDXChannel - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memasuki babak baru setelah batas bawah harga Rp50 per saham atau gocap dihapus.
Perhatian pasar kini beralih pada seberapa lama tekanan jual bertahan dan pada level berapa saham GOTO menemukan keseimbangan harga baru.
Tekanan jual pada sesi perdagangan tercatat sangat besar, bahkan mencapai sekitar 1 miliar lot per hari pada Senin (28/9/2026). Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati apakah volume jual mulai mereda dan harga saham mampu membentuk pijakan baru.
Analis pasar modal menilai pergerakan GOTO setelah batas gocap dibuka berlangsung tajam. Saham yang sebelumnya memiliki keterbatasan untuk bergerak di pasar reguler kini memiliki ruang lebih luas untuk mencari harga keseimbangan baru.
“Kalau harga saham GoTo berada di Rp28, pasar seolah-olah hanya menghargai aset likuidnya dan tidak memberikan nilai pada bisnis yang sedang berjalan. Padahal GoTo punya bisnis dengan pendapatan yang tumbuh dan profitabilitas yang terus membaik. Karena itu, menurut kami harga tersebut belum mencerminkan fundamental perusahaan,” ujar analis Phillip Sekuritas Indonesia Edo.
Ia menyebut konsensus pasar menempatkan harga wajar GOTO di kisaran Rp65-Rp74 per saham. Kisaran tersebut menunjukkan besarnya perbedaan antara harga pasar dan estimasi nilai GoTo berdasarkan konsensus analis.
Jika dibandingkan dengan harga Rp28 per saham, kisaran harga wajar tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 132 persen hingga 164 persen.
Namun, catatan saja, rentang tersebut tidak serta-merta berarti harga saham akan segera bergerak menuju level tersebut.
“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GoTo berdasarkan kinerja bisnisnya,” kata Edo.
Dari sisi operasional, GoTo telah membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp5,7 triliun, sedangkan EBITDA Grup yang disesuaikan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun.
GoTo menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp3,2-Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
Menurut analis, realisasi kinerja dan target tersebut menjadi indikator bahwa perseroan terus membangun kinerja bisnisnya, meski harga saham masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
“Sulit mengatakan GoTo tidak memiliki nilai bisnis ketika operasinya menghasilkan pendapatan triliunan rupiah dan profitabilitasnya membaik. Pada harga Rp28, saham ini terlihat murah apabila kemajuan tersebut dapat dipertahankan,” imbuh dia.
Selain perbaikan kinerja operasional, GoTo juga telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun.
Aksi tersebut memberi perseroan ruang untuk membeli kembali saham sesuai ketentuan dan kondisi pasar.
Perseroan juga mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri. Jika disetujui dan direalisasikan, aksi tersebut akan mengurangi jumlah saham beredar.
Pasar pun akan mencermati pelaksanaan kedua aksi korporasi tersebut bersamaan dengan perkembangan laba dan arus kas GoTo.
Dalam jangka pendek, pergerakan GOTO masih berpotensi bergejolak selama tekanan jual belum mereda.
Namun, apabila volume jual mulai terserap dan kinerja operasional terus menunjukkan perbaikan, perhatian pasar dapat bergeser dari efek penyesuaian harga setelah lepas dari gocap ke kemampuan bisnis GoTo dalam menopang valuasinya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.