Purbaya Tunda Insentif Pajak Kendaraan Listrik, Ini Alasannya
Pemerintah menunda peluncuran paket insentif pajak kendaraan listrik (electric vehicle/EV) selama satu bulan ke depan.
IDXChannel - Pemerintah menunda peluncuran paket insentif pajak kendaraan listrik (electric vehicle/EV) selama satu bulan ke depan.
Penundaan dilakukan karena pemerintah masih mematangkan formulasi teknis, terutama terkait skema perhitungan insentif yang akan diterapkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, stimulus yang tengah disiapkan pemerintah akan berbentuk fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian mobil listrik baru.
“Insentif EV masih ditunda satu bulan lagi,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Purbaya mengungkapkan, besaran insentif PPN DTP yang sedang dibahas berkisar antara 40 persen hingga maksimal 100 persen, tergantung skema dan spesifikasi kendaraan.
Meski demikian, fasilitas tersebut dipastikan hanya berlaku untuk kendaraan listrik murni berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV), dan tidak mencakup kendaraan hybrid.
“PPN DTP itu ada yang 100 persen, ada yang 40 persen, nanti masih didiskusikan skemanya. Itu utamanya EV, bukan hybrid,” kata Purbaya.
Dia menjelaskan, pemerintah akan membedakan besaran insentif berdasarkan jenis teknologi baterai yang digunakan masing-masing produsen otomotif.
Mobil listrik dengan baterai berbasis nikel diproyeksikan memperoleh insentif lebih besar dibanding kendaraan yang menggunakan baterai non-nikel seperti Lithium Iron Phosphate (LFP). Perhitungan teknis skema tersebut saat ini tengah dimatangkan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
“Yang baterainya berbasis nikel dan non-nikel nanti beda skemanya. Menperin yang menghitung. Kenapa yang nikel subsidinya lebih besar, karena supaya nikel kita terpakai,” ujarnya.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat hilirisasi mineral kritis, khususnya nikel, sekaligus menjaga daya saing rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional.
Purbaya menilai, Indonesia masih memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri baterai global, terutama dengan dukungan cadangan nikel yang melimpah.
“Dulu saya baca di The Economist, katanya mimpi Indonesia menguasai dunia baterai hilang karena China tidak pakai nikel. Sekarang kita balik, nikelnya kita pakai sehingga hilirisasi teknologi baterai tetap berjalan,” tuturnya.
(DESI ANGRIANI)