MARKET NEWS

Rumor Merger MTEL-TBIG Muncul Lagi, Siapa Berpotensi Jadi Survivor?

TIM RISET IDX CHANNEL 28/08/2026 11:33 WIB

Rumor merger PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat.

Rumor Merger MTEL-TBIG Muncul Lagi, Siapa Berpotensi Jadi Survivor? (Foto: Magnific)

IDXChannel – Rumor merger PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat.

Jika terealisasi, aksi korporasi ini dinilai berpotensi menjadikan MTEL sebagai entitas yang bertahan (surviving entity) sekaligus memberikan katalis positif bagi saham perusahaan menara telekomunikasi milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tersebut.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja dalam riset yang terbit pada 26 Agustus 2026 menyebut pembicaraan merger MTEL dan TBIG kembali menjadi perhatian setelah sempat muncul sejak lebih dari satu dekade lalu.

Ide konsolidasi tersebut pertama kali mencuat pada 2014, ketika TBIG pernah mengusulkan akuisisi MTEL dari Telkom melalui skema pertukaran saham (share swap).

Saat itu, transaksi diperkirakan dapat menambah 3.928 menara serta menghasilkan tambahan pendapatan sekitar USD130 juta dan EBITDA sekitar USD70 juta berdasarkan kinerja 2013.

Kini, wacana tersebut kembali muncul. Bloomberg sebelumnya melaporkan adanya pembicaraan merger pada Juli 2025, sementara spekulasi kembali menguat pada Agustus 2026.

Menurut Daniel, apabila merger terealisasi, transaksi tersebut akan memiliki nilai sekitar Rp69,6 triliun dan menciptakan salah satu pemain menara terbesar di Indonesia.

Entitas gabungan diperkirakan memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 penyewa atau tenant. Dengan demikian, tenancy ratio akan mencapai 1,61 kali, meningkat dibandingkan posisi MTEL sebesar 1,57 kali pada semester I-2026.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA gabungan diperkirakan mencapai Rp13,7 triliun dengan margin yang berpotensi meningkat sekitar 100 basis poin.

MTEL Berpeluang Jadi Survivor

Daniel memperkirakan MTEL menjadi entitas yang bertahan dalam merger tersebut, terutama karena statusnya sebagai perusahaan BUMN dan keterkaitannya dengan Danantara.

Dengan asumsi TLKM mempertahankan sedikitnya 51 persen kepemilikan pada perusahaan gabungan, terdapat dua skenario yang dapat ditempuh.

Skenario pertama adalah melalui skema pertukaran saham. Dengan menggunakan harga saham MTEL dan TBIG saat ini serta kepemilikan Telkom sebesar 71,8 persen di MTEL sebagai titik awal, harga saham MTEL setidaknya perlu mencapai Rp964 per saham agar Telkom tetap mempertahankan kendali mayoritas.

Harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 119,2 persen dari level saat ini, meski juga berarti valuasi MTEL akan mencapai sekitar 12,8 kali EV/EBITDA FY26F.

Sementara itu, skenario kedua adalah melalui penyertaan modal.

Telkom atau Danantara dapat melakukan injeksi dana melalui aksi penempatan saham, dengan penerbitan sekitar 42,3 miliar saham baru senilai Rp18,6 triliun berdasarkan harga saat ini.

Gabungan MTEL-TBIG Dinilai Lebih Kuat

Daniel menilai merger tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi kedua perusahaan maupun industri menara telekomunikasi secara keseluruhan.

Salah satu alasannya adalah karakteristik jaringan kedua perusahaan yang relatif saling melengkapi.

MTEL memiliki konsentrasi menara yang lebih besar di luar Jawa, yakni sekitar 52,4 persen, sementara TBIG lebih terkonsentrasi di Jawa dengan porsi sekitar 57,4 persen.

Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi tumpang tindih aset dan memungkinkan sebagian besar portofolio kedua perusahaan tetap memberikan kontribusi setelah merger.

Dari sisi neraca, konsolidasi juga dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi TBIG. Pasalnya, tingkat leverage TBIG saat ini berada di sekitar batas covenant sebesar 5 kali.

Dengan bergabung bersama MTEL, struktur neraca yang lebih sehat berpotensi meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membiayai siklus pembangunan jaringan 5G, terutama untuk memenuhi kebutuhan densifikasi jaringan.

Persaingan Industri Mengerucut

Merger MTEL dan TBIG juga berpotensi mengubah struktur industri menara telekomunikasi Indonesia. Jika terealisasi, industri akan semakin terkonsentrasi pada dua pemain besar, yakni MTEL-TBIG dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Konsolidasi tersebut dinilai dapat sedikit mengembalikan daya tawar perusahaan menara dalam negosiasi perpanjangan kontrak dengan operator telekomunikasi.

Hal ini menjadi penting setelah bertahun-tahun terjadi tekanan terhadap tarif sewa menara. Daniel mencatat harga sewa atau revenue per tower MTEL turun sekitar 3,5 persen secara tahunan, sedangkan TOWR mengalami penurunan sekitar 6,8 persen.

Dengan berkurangnya jumlah pemain dominan, tekanan terhadap harga berpotensi mereda dan memberikan dampak positif bagi industri secara keseluruhan.

TOWR juga dinilai menjadi salah satu pihak yang berpotensi memperoleh manfaat dari perubahan struktur industri tersebut, tanpa harus menanggung risiko integrasi merger.

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor telekomunikasi infrastruktur.

Daniel menilai katalis pertumbuhan industri masih membutuhkan pemicu atau katalis yang lebih jelas setelah beberapa tahun menghadapi pertumbuhan menara dan tenant yang relatif moderat.

Konsolidasi MTEL-TBIG berpotensi menjadi salah satu pemicu tersebut, terutama jika berlangsung bersamaan dengan siklus belanja modal operator telekomunikasi untuk pengembangan 5G yang dapat mendorong kebutuhan densifikasi jaringan.

Risiko positif bagi sektor mencakup pertumbuhan jumlah tenant yang lebih kuat dari perkiraan serta percepatan pembangunan fixed wireless access (FWA).

Sebaliknya, risiko negatif yang perlu diperhatikan meliputi suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama serta risiko eksekusi dalam proses konsolidasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE