MARKET NEWS

Rupiah Berakhir Bertenaga ke Rp16.802 per USD usai Kemenkeu Rilis Defisit APBN

Anggie Ariesta 23/02/2026 15:44 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (23/2/2026).

Rupiah Berakhir Bertenaga ke Rp16.802 per USD usai Kemenkeu Rilis Defisit APBN. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (23/2/2026), naik 86 poin atau sekitar 0,51 persen ke level Rp16.802 per USD.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran dengan harapan bahwa ketegangan dapat mereda.

"Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka, komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi," ujarnya dalam risetnya, Senin (23/2/2026).

Kemudian, Presiden AS Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa akan mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.

Pemerintah AS kemudian menaikkan tarif menjadi 15 persen, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global. Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar.

Sementara itu, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal keempat tahun lalu menurun dari 4,4 persen menjadi 1,4 persen secara YoY, yang disebabkan oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari.

Sementara Data PCE inti terbaru semakin memperkuat pandangan bahwa Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga tetap dalam beberapa bulan mendatang. PCE inti tingkat tahunan meningkat menjadi 3,0 persen dari 2,8 persen, tetap di atas target 2 persen bank sentral.

Dari sentimen domestik, kata Ibrahim, Kementerian Keuangan mencatat APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026. Hal tersebut setara dengan 0,21 persen dari produk domestik bruto (PDB), dengan rincian pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,5 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun.

Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.

Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.

Lebih lanjut, untuk defisit keseimbangan primer tercatat mencapai Rp4,2 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak ada kenaikan dalam defisit APBN.

Pada akhir Januari 2024, defisit APBN mencapai Rp23 triliun atau setara 0,09 persen dari PDB (lebih rendah Rp31,6 triliun dibandingkan realisasi akhir Januari 2026). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

"Berdasarkan analisis tersebut, diprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp16.770-Rp16.800 per USD," kata dia.

(Dhera Arizona)

SHARE