MARKET NEWS

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.611 per Dolar AS Tertekan Konflik Iran dan Harga Minyak

Anggie Ariesta 11/09/2026 15:48 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (11/9/2026), turun 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.611 per dolar.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.611 per Dolar AS Tertekan Konflik Iran dan Harga Minyak. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (11/9/2026), turun 64 poin atau sekitar 0,36 persen ke level Rp17.611 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz, sementara AS menyatakan telah melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.

“Serangan-serangan tersebut menandai pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir dan mengindikasikan minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang kini telah memasuki bulan ketujuh,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut di Timur Tengah, menyusul sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa kelompok tersebut telah menguasai kota pelabuhan Mocha dan memperkuat posisi tawar mereka atas Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi, yang telah menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi, terlihat menyerang kapal-kapal di Bab el-Mandeb serta melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.

Serangan Houthi di Bab el-Mandeb berpotensi memutus jalur utama pasokan minyak Timur Tengah lainnya setelah Selat Hormuz, sehingga menambah gangguan di pasar minyak mentah. Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah.

Data PPI AS pada bulan Agustus naik 0,4 persen secara bulanan (MoM), sesuai dengan ekspektasi pasar dan meningkat dari kenaikan 0,1 persen yang tercatat pada Juli. Inflasi produsen tahunan naik menjadi 5,4 persen, sedikit di atas perkiraan 5,3 persen dan meningkat dari angka sebelumnya sebesar 4,8 persen. 

Secara tahunan, inflasi produsen inti naik menjadi 4,6 persen dari 4,3 persen, sesuai dengan ekspektasi. Angka-angka tersebut menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka lebar.

Hari ini fokus pasar akan tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan dirilis malam ini pukul 19.30 WIB. IHK bulan Agustus diperkirakan naik dari 0,1 persen menjadi 0,4 persen secara bulanan (MoM), sementara angka tahunan (YoY) untuk periode 12 bulan terakhir diprediksi tetap stabil di level 3,4 persen. IHK Inti diperkirakan bertahan di angka 0,2 persen secara bulanan dan turun dari 2,5 persen menjadi 2,4 persen secara tahunan.

Dari sentimen dalam negeri, harga minyak mentah dunia melampaui USD100 per barel, posisi Indonesia sebagai importir neto minyak memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat.

Kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi Makro APBN (ICP/Indonesian Crude Price) secara otomatis menaikkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM (seperti pertalite dan solar serta LPG 3 Kg) sehingga akan terjadi risiko defisit, apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran.

Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam sehingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing ini dapat menekan nilai tukar Rupiah, yang pada gilirannya bisa memicu imported inflation (inflasi barang impor) untuk komoditas lainnya.

Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter, ini yang membuat batu sandungan tersendiri. Anggaran fiskal (APBN) jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM. Kalau menaikkan Harga BBM, akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat, dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Meskipun Indonesia di sisi lain diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas ekspor lain (seperti batu bara atau kelapa sawit/CPO) yang sering kali ikut terkerek naik saat krisis energi (windfall revenue), keuntungan tersebut sering kali tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kerugian akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.610-Rp17.650 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan depan di kisaran Rp17.500-Rp.17.850 per dar AS. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE