MARKET NEWS

Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp17.905 per Dolar AS

Rohman Wibowo 07/08/2026 09:52 WIB

Kurs rupiah kembali mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal sesi perdagangan penutup pekan ini, Jumat (7/8/2026).

Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp17.905 per Dolar AS. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Kurs rupiah kembali mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal sesi perdagangan penutup pekan ini, Jumat (7/8/2026).

Berdasarkan data dari Refinitiv pada pembukaan pasar hari ini, mata uang Garuda mengalami apresiasi tipis sebesar 0,03 persen menjadi Rp17.905 per dolar AS.

Tren penguatan pada pagi hari ini melanjutkan performa rupiah yang sukses menutup perdagangan di zona hijau selama dua hari berturut-turut sebelumnya. Tercatat pada Kamis (6/8/2026), nilai tukar rupiah parkir dengan penguatan 0,08 persen ke level Rp17.910 per dolar AS, setelah pada Rabu juga ditutup naik sebesar 0,50 persen.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama global, terpantau naik tipis 0,03 persen ke level 99,956.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa stabilitas mata uang Garuda turut disokong oleh performa ekonomi nasional yang melampaui proyeksi awal. Perolehan tersebut dianggap mencerminkan ketahanan aktivitas domestik yang solid di tengah tantangan ekonomi global.

"Secara internal, ada sentimen berlanjut dari perkembangan pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal pertama namun tetap melampaui proyeksi, sehingga menjadikan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45 persen," ujar Ibrahim dalam analisisnya.

Selain faktor domestik, perhatian investor juga tertuju pada agenda peninjauan lembaga indeks internasional seperti MSCI dan FTSE Russell yang memegang kendali atas dana pasif bernilai jumbo. Besarnya aset kelolaan (passive assets under management) membuat kebijakan lembaga tersebut krusial bagi pergerakan modal di pasar keuangan.

"Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka Kelola, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) indeks MSCI mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per USD. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun," tambahnya.

Sementara itu dari ranah eksternal, ketegangan jalur distribusi energi dunia mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan awal terkait koordinat pelayaran penting di Timur Tengah. Meski demikian, para pelaku pasar tetap mewaspadai kelanjutan detail teknis dan biaya logistik di kawasan tersebut.

Secara sentimen eksternal, kata dia, sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global. 

"Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan," kata Ibrahim. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE