Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat Tipis ke Rp16.904 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp16.904 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp16.904 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (26/3/2026).
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar mempertimbangkan sinyal diplomatik sementara dari Teheran, di mana para pejabat dilaporkan sedang meninjau proposal yang didukung AS yang bertujuan untuk menghentikan permusuhan.
“Meskipun Iran belum secara resmi menerima rencana tersebut, mereka belum menolaknya secara langsung, sehingga menimbulkan harapan yang hati-hati akan potensi jalan menuju de-eskalasi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi, dengan Iran secara terbuka membantah negosiasi langsung dengan Washington dan menunjukkan bahwa perbedaan utama masih ada. Kurangnya kejelasan telah membuat para pedagang waspada, dengan pasar minyak lesu pada Kamis.
Harga minyak sangat fluktuatif dalam beberapa minggu terakhir karena konflik tersebut mengganggu aliran energi dari Teluk, wilayah yang penting bagi pasokan minyak mentah global. Minyak mentah Brent telah melonjak di atas USD119 per barel awal bulan ini karena kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Selat Hormuz, jalur transit vital bagi sekitar seperlima pengiriman minyak global, tetap menjadi titik fokus pasar, dengan ancaman apa pun terhadap pengiriman melalui jalur air tersebut kemungkinan akan memicu lonjakan harga lebih lanjut.
Investor juga mengamati dengan cermat sinyal dari Washington, di mana para pejabat telah memperingatkan akan adanya tindakan yang lebih keras jika Iran tidak terlibat secara konstruktif, yang menambah lapisan ketidakpastian lain pada prospek.
Dari sentimen domestik, pemerintah Indonesia belum berencana menyesuaikan atau menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. APBN masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak mentah global saat ini.
Fluktuasi harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini belum mencapai titik yang membahayakan postur anggaran. Oleh karena itu, wacana pembatasan kuota maupun kenaikan harga BBM subsidi sama sekali belum masuk dalam radar kebijakan pemerintah.
Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) terbaru masih berada di level USD74 per barel. Angka ini memang sedikit meleset dari asumsi makro APBN yang dipatok pada level USD70 per barel.
Namun, selisih USD4 per barel tersebut dinilai masih sangat terkelola dan tidak menjustifikasi adanya tindakan reaktif dari pemerintah. Perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata pergerakan harga sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat.
Belajar dari krisis masa lalu, Indonesia cenderung berhasil menghadapi krisis energi global yang sempat pada 2008-2009, 2014, dan 2020. Pada periode 2008–2009, ketika rata-rata harga minyak dunia melambung hingga kisaran USD130 per barel di tengah hancurnya pasar modal Amerika Serikat akibat krisis subprime mortgage.
Meski ekonomi global alami resesi, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6 persen, hal ini murni buah kebijakan bauran fiskal dan moneter sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.900-Rp16.940 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)