IDXChannel – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri. Pelemahan mata uang domestik dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak di kisaran 98,73 hingga 101,20 dengan kecenderungan menguat dalam waktu dekat.
“Dalam perdagangan minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).
Menurutnya, penguatan dolar AS didorong oleh sikap bank sentral global yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (hawkish) untuk menekan inflasi. Di sisi lain, tekanan inflasi global juga dipicu oleh kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan dapat menembus kisaran USD110 hingga USD116 per barel.
Lonjakan harga energi tersebut berkaitan dengan meningkatnya tensi geopolitik, termasuk potensi konflik yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen minyak utama dunia.
“Iran merupakan salah satu negara penghasil brent crude oil untuk bahan bakar avtur. Kondisi ini membuat harga emas tergelincir dan investor beralih ke safe haven dolar AS karena prospek penguatannya cukup tajam,” jelasnya.