MARKET NEWS

Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Ditutup di Level Rp18.128 per USD

Nia Deviyana 09/07/2026 16:07 WIB

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen ganda dari eksternal maupun domestik.

Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Ditutup di Level Rp18.128 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Melansir Bloomberg, rupiah turun 114 poin atau 0,63 persen ke Rp18.128 per USD.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen ganda dari eksternal maupun domestik.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah serangan Rabu malam. Serangan baru terhadap Iran yang bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah berakhir.

AS mengatakan serangan terbarunya merupakan tanggapan terhadap serangan hari Selasa terhadap tiga kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Serangan AS mengguncang beberapa kota di sepanjang pantai selatan Iran dan menyebabkan beberapa daerah tanpa aliran listrik. Iran mengatakan mereka menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur.

Beberapa perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz.

“Selain itu, risalah rapat Fed bulan Juni menunjukkan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi, yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Inflasi AS telah meningkat tajam sejak dimulainya perang AS-Iran pada akhir Februari, dengan pertumbuhan harga tetap jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memenuhi target tersebut selama pidato baru-baru ini.

Dari domestik, Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar, di mana APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional, yaitu penguatan ketahanan pangan, penguatan ketahanan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kemudian, peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan program layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sistem pertahanan semesta, dan percepatan investasi serta peningkatan perdagangan global. APBN juga tetap menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Koreksi ini terlihat dari tren pelemahan indeks utama maupun seluruh komponen penyusunnya yang kompak bergerak melandai menjelang penutupan semester pertama tahun ini.

Berdasarkan data makro yang dirilis bank sentral, angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 bertengger di level 117,8. Realisasi tersebut menunjukkan penurunan yang konsisten jika dibandingkan dengan pencapaian pada Mei 2026 yang sempat berada di level 120,9, atau posisi awal tahun pada Januari 2026 yang sempat perkasa di level 127,0.

Meskipun mengalami penurunan berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir, BI menegaskan bahwa kondisi psikologis ekonomi masyarakat secara umum masih berada di zona aman. Keyakinan konsumen dinyatakan tetap terjaga pada area optimistis karena perolehan agregat angka IKK nasional terpantau konsisten berada di atas ambang batas parameter dasar sebesar 100.

Berdasarkan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah masih rentan berfluktuatif namun diproyeksi melemah pada rentang  Rp18.120- Rp18.180 per USD.

(NIA DEVIYANA)

SHARE