MARKET NEWS

Rupiah Tembus Rp18.130 per USD, Ekonom Ingatkan Kewaspadaan Tinggi dari Pemerintah

Anggie Ariesta 26/10/2026 14:57 WIB

Rupiah ditutup melemah 0,28 persen ke level Rp18.130 per USD, setelah bergerak pada rentang Rp18.126 hingga Rp18.133 per USD.

Rupiah Tembus Rp18.130 per USD, Ekonom Ingatkan Kewaspadaan Tinggi dari Pemerintah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (26/10/2026). Rupiah ditutup melemah 0,28 persen ke level Rp18.130 per USD, setelah bergerak pada rentang Rp18.126 hingga Rp18.133 per USD menjelang penutupan pasar.

Sebelumnya, rupiah dibuka melemah pada kisaran Rp18.085 hingga Rp18.110 per USD, sebelum akhirnya tertekan lebih dalam menembus rentang Rp18.100 hingga Rp18.120 per USD sejak pertengahan hari.

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rahma Gafmi menilai pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.100 per USD merupakan sinyal penting yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari otoritas moneter maupun pelaku pasar.

"Pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga menembus level psikologis baru di kisaran Rp18.100 per USD menjadi sinyal penting yang menuntut kewaspadaan tinggi, baik dari otoritas moneter maupun para pelaku pasar," kata Rahma dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Rahma menjelaskan tekanan rupiah merupakan hasil akumulasi beban struktural global dan domestik. Lonjakan imbal hasil obligasi US Treasury serta penguatan indeks dolar AS (DXY) secara konsisten memicu aliran modal keluar (capital outflow) menuju aset safe haven. 

Dari dalam negeri, ekspektasi likuiditas valas korporasi hingga isu penyesuaian pasar modal seperti evaluasi indeks MSCI turut memengaruhi tingkat kepercayaan investor asing.

Dampak langsung dari pelemahan ke level Rp18.100 per USD ini mengancam industri manufaktur nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari sektor kimia, elektronik, farmasi, hingga bahan pangan dan pakan ternak.

"Industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti bahan kimia, komponen elektronik, farmasi, hingga bahan pangan dan pakan ternak, akan langsung merasakan pembengkakan biaya produksi (imported inflation). Korporasi sering kali dihadapkan pada dilema antara menyerap biaya (menggerus margin profit) atau menaikkan harga jual produk, yang pada akhirnya berisiko menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah," ujar Rahma.

Mengenai efektivitas kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI), Rahma berpendapat bahwa instrumen ganda di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bekerja efektif sebagai penyangga gejolak (shock absorber), namun memiliki keterbatasan struktural untuk membalikkan tren (trend reversal).

"Secara umum, respons yang ditempuh otoritas belum fully efektif meredam tekanan struktural, meskipun intervensi yang dilakukan berhasil mencegah depresiasi yang jauh lebih ekstrem atau liar (disorderly market conditions). Intervensi ganda (spot dan DNDF) efektif untuk meredam volatilitas jangka pendek (smoothing the path), namun tidak bisa mengubah tren fundamental jika tekanan global dan capital outflow terus mendominasi," ujar Rahma.

Menurut Rahma, opsi mengerek suku bunga acuan (BI Rate) juga dihadapkan pada dilema karena berisiko menekan pemulihan sektor riil dan penyaluran kredit UMKM serta korporasi.

Oleh karena itu, Rahma menekankan pentingnya penguatan koordinasi fiskal-moneter dan komunikasi disiplin anggaran APBN demi meredam persepsi risk-off di pasar.

"Kebijakan yang diambil BI dan pemerintah bukan tidak bekerja, melainkan bekerja sebagai benteng pertahanan (shock absorber) agar pasar tidak mengalami kepanikan total. Namun, untuk benar-benar membalikkan keadaan (turning point), intervensi moneter saja tidak cukup. Diperlukan penguatan kepastian fiskal, peningkatan kepercayaan investor melalui reformasi struktural, serta perbaikan fundamental transaksi berjalan agar pasokan valas domestik benar-benar berlimpah secara murni," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

SHARE