Saham Bank Besar Jadi Sasaran Jual Asing, Ada Apa?
Saham-saham bank besar menjadi sasaran jual investor asing setidaknya dalam sepekan terakhir di tengah tekanan pasar saham domestik.
IDXChannel - Saham-saham bank besar menjadi sasaran jual investor asing setidaknya dalam sepekan terakhir di tengah tekanan pasar saham domestik. Kondisi tersebut terlihat dari dominasi saham perbankan dalam daftar net sell asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham bank pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net sell asing terbesar, yakni mencapai Rp886,53 miliar dalam sepekan hingga perdagangan Kamis (24/9/2026).
Harga saham BMRI turun 4,46 persen dalam sepekan ke level Rp4.070 per unit hingga Jumat (25/9) pagi.
Tekanan juga terlihat pada bank Himbara lainnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang mencatat net sell asing Rp645,12 miliar. Saham BBRI turun 5,74 persen selama sepekan menjadi Rp3.120 per unit.
Sementara itu, saham Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) relatif lebih terbatas ditekan asing dengan net sell Rp242,36 miliar. Kendati demikian, saham BBCA masih turun 0,79 persen dalam sepekan ke Rp6.250.
Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat net sell asing Rp83,81 miliar, dengan harga saham turun 4,38 persen menjadi Rp3.490.
Tekanan terhadap saham bank besar tersebut berlangsung ketika arus dana asing di pasar saham Indonesia masih deras keluar. Total net sell asing di Bursa Efek Indonesia hingga Kamis (24/9/2026) mencapai Rp4,84 triliun dalam sepekan.
Pada perdagangan Kamis saja, investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler.
Margin Bank BUMN Jadi Perhatian
Tekanan jual terhadap saham bank besar terjadi ketika prospek profitabilitas bank-bank BUMN tengah menghadapi tantangan dari penyempitan margin bunga.
S&P Global Ratings mencatat pertumbuhan kredit bank-bank BUMN pada paruh pertama 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri.
Per Juni 2026, kredit tiga bank BUMN yang dinilai S&P tumbuh rata-rata 26 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan kredit industri berada di sekitar 12 persen.
Ekspansi tersebut terutama didorong oleh partisipasi bank dalam program ekonomi yang terkait dengan pemerintah serta peningkatan penyaluran kredit kepada BUMN. D
i sisi lain, pertumbuhan kredit banyak terjadi pada segmen dengan imbal hasil lebih rendah, sementara biaya pendanaan masih relatif tinggi.
Kondisi tersebut berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). S&P memperkirakan NIM bank-bank BUMN dapat turun sekitar 10 hingga 20 basis poin dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Tekanan margin juga datang dari kondisi suku bunga domestik.
Meskipun kondisi pendanaan perbankan mulai membaik sejak kuartal II-2026, biaya dana masih relatif tinggi sehingga bank perlu mengelola pertumbuhan kredit dan komposisi sumber pendanaannya secara lebih hati-hati.
Di tengah kondisi tersebut, bank-bank BUMN menghadapi tantangan lebih besar untuk mempertahankan pertumbuhan kredit karena masih bergantung pada sumber pendanaan di luar dana murah serta likuiditas pemerintah.
Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan mengatakan tekanan likuiditas paling berat terjadi pada April-Juni 2026. Setelah periode tersebut, tekanan pendanaan mulai mereda, meski respons perbankan berbeda-beda.
“Bank swasta tetap relatif berhati-hati terhadap pertumbuhan kredit, sementara bank BUMN atau Himbara terus tumbuh lebih cepat, didukung penempatan likuiditas pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL), deposito berjangka, serta sumber pendanaan lainnya,” tulis Posmarito dalam riset yang terbit 21 September 2026.
Singkatnya, aksi jual asing terhadap saham bank besar tidak semata-mata berlangsung dalam konteks tekanan IHSG secara keseluruhan.
Investor juga menghadapi isu sektoral berupa pertumbuhan kredit yang sangat cepat, potensi penyempitan NIM, serta ketergantungan sebagian ekspansi kredit Himbara terhadap program dan likuiditas pemerintah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.