MARKET NEWS

Saham BRPT-PTRO Cs Reli saat BREN Jatuh Jelang Dicoret MSCI

TIM RISET IDX CHANNEL 21/04/2026 11:44 WIB

Saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu kompak menguat pada perdagangan Selasa (21/4/2026), di tengah tekanan pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Saham BRPT-PTRO Cs Reli saat BREN Jatuh Jelang Dicoret MSCI. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu kompak menguat pada perdagangan Selasa (21/4/2026), di tengah tekanan pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang bersiap dicoret dari indeks MSCI akibat masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.26 WIB, saham BREN turun 6,82 persen ke level Rp6.150 per unit.

BREN, bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinarmas, masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), dengan porsi masing-masing mencapai 97,31 persen dan 95,76 persen. Kondisi ini menjadi sorotan dalam penilaian investabilitas oleh MSCI.

Keduanya saat ini masih tercatat sebagai konstituen MSCI Indonesia. Namun, saham DSSA juga tertekan, anjlok 13,76 persen ke Rp2.830 per unit.

Di sisi lain, saham-saham lain milik Prajogo Pangestu justru bergerak menguat.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 9,81 persen ke Rp2.350, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 7,00 persen ke Rp6.500, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menguat 6,25 persen, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) bertambah 5,76 persen.

Berbeda dengan saham lainnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tercatat melemah tipis 0,33 persen.

Informasi saja, selain BREN yang berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI Standard, saham Prajogo lainnya seperti BRPT, TPIA, dan CUAN juga masih menjadi bagian dari indeks tersebut.

Pada Senin (20/4), MSCI memutuskan memperpanjang masa evaluasi terhadap pasar saham Indonesia hingga Juni 2026, seiring penilaian atas berbagai reformasi yang telah diluncurkan otoritas.

Keputusan ini muncul setelah peringatan pada Januari lalu memicu tekanan besar di pasar dan arus keluar dana asing (foreign outflow).

Menanggapi pengumuman MSCI, pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai keputusan tersebut masih dalam koridor yang wajar dan cenderung netral.

“Ini mengingat keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen merupakan hal besar yang jarang terjadi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, adanya penekanan MSCI terhadap penggunaan data kepemilikan di atas 1 persen dalam perhitungan free float justru mencerminkan respons positif terhadap reformasi yang dilakukan regulator.

Di sisi lain, Yeoh juga menyoroti potensi dampak langsung terhadap sejumlah saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), khususnya yang berisiko keluar dari indeks.

“Saham BREN dan DSSA bisa dipastikan akan keluar dari indeks di periode mendatang,” katanya.

Ia memperkirakan, keluarnya kedua saham tersebut berpotensi memicu arus dana keluar dalam jumlah signifikan dari pasar. “Estimasi outflow kisaran Rp3 triliun untuk BREN dan DSSA sekitar Rp5 triliun,” tutur dia.

Senada, analis Stockbit dalam risetnya, pada Selasa (21/4/2026), menyoroti soal BREN dan DSSA.

“Akan ada tekanan jual dari passive fund saat MSCI mengeksekusi deletion [penghapusan saham dari indeks],” tulis Stockbit.

Sementara, manajer investasi SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai, dikutip Reuters, Selasa (21/4), langkah ini sesuai ekspektasi pasar.

“Ini menegaskan pendekatan MSCI yang terukur dan cenderung wait and see, tetap terlibat secara konstruktif dengan reformasi yang ada, namun masih membutuhkan waktu lebih untuk menilai implementasinya,” ujar Mohit.

Ia menambahkan, “Untuk saat ini, pasar masih berada dalam fase holding pattern, dengan Juni menjadi katalis utama berikutnya.”

Pada Januari lalu, MSCI sempat mengingatkan bahwa Indonesia berisiko turun status dari emerging market menjadi frontier market akibat isu transparansi.

Dampaknya cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 12 persen sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terburuk di Asia. Investor asing pun tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp34 triliun.

Dalam pembaruan terbarunya, MSCI menyatakan masih mengkaji sumber data baru dan kebijakan regulator Indonesia.

Hasil evaluasi lanjutan akan disampaikan pada review Juni mendatang.

Untuk sementara, MSCI tetap membekukan kenaikan faktor inklusi asing (FIF) serta jumlah saham (NOS) yang dihitung dalam indeks.

Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks global maupun kenaikan klasifikasi ukuran emiten.

Pada perdagangan Selasa (21/4), IHSG melemah sekitar 0,81 persen ke level 7.532 hingga pukul 10.39 WIB, seiring penurunan tajam saham konstituen MSCI yang masuk kategori HSC, yakni BREN dan DSSA, bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 4,94 persen seiring masa ex date dividen.

Sejak peringatan MSCI pada Januari, pemerintah dan otoritas pasar telah meluncurkan sejumlah reformasi penting.

Di antaranya adalah peningkatan transparansi data pemegang saham serta kenaikan batas minimal free float menjadi 15 persen untuk meningkatkan likuiditas dan mengurangi potensi manipulasi harga.

Di sisi lain, penyedia indeks global FTSE Russell tetap mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market dan belum memasukkannya ke dalam daftar pemantauan.

Sebagai bagian dari penyesuaian kebijakan, MSCI juga akan menghapus saham yang masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC).

Selain itu, data kepemilikan saham di atas 1 persen dapat digunakan untuk menyesuaikan perhitungan free float bila diperlukan.

Namun demikian, MSCI menegaskan belum akan sepenuhnya memasukkan data dan pengungkapan baru tersebut ke dalam metodologi indeks hingga proses evaluasi rampung dan masukan dari pelaku pasar selesai ditelaah.

Langkah ini diambil untuk membatasi risiko perubahan indeks yang terlalu besar sekaligus menjaga daya investasinya.

Ke depan, MSCI menyatakan akan terus berdialog dengan otoritas Indonesia dan pelaku pasar global selama proses evaluasi berlangsung.

BEI Intensifkan Komunikasi

Seiring pengumuman terbaru MSCI, BEI menegaskan akan terus menjalin komunikasi dengan MSCI seiring upaya mendorong pengakuan atas rencana reformasi pasar yang telah disiapkan.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan, seperti dikutip Reuters, Selasa (21/4/2026), pihaknya optimistis MSCI akan merespons positif langkah-langkah perbaikan yang tengah dijalankan.

Ia juga menyebut MSCI kini tidak lagi menyinggung risiko penurunan (downgrading) status pasar saham Indonesia dalam penilaiannya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE