Saham INDS ARB 3 Hari Beruntun usai Reli, Analis Soroti Masalah Ini
Saham produsen pegas untuk kendaraan PT Indospring Tbk (INDS) kembali jatuh hingga auto rejection bawah (ARB) 15 persen untuk kali ketiga beruntun.
IDXChannel – Saham produsen pegas untuk kendaraan PT Indospring Tbk (INDS) kembali jatuh hingga auto rejection bawah (ARB) 15 persen untuk kali ketiga beruntun pada Selasa (24/2/2026), memutus reli liar sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.47 WIB, saham INDS anjlok 14,90 persen ke level Rp1.770 per unit, dengan nilai transaksi Rp933,68 juta dan volume 527 ribu saham.
Antrean jual di harga ARB terbilang ramai, mencapai 482 ribu lot atau setara dengan Rp85,53 miliar.
Dengan kondisi tersebut, saham INDS tercatat mengalami ARB selama tiga hari berturut-turut, setelah sebelumnya sempat terbang hingga menyentuh auto rejection atas (ARA) berulang kali dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di level Rp3.410 per unit pada intraday 19 Februari 2026.
Dalam sebulan terakhir, saham INDS masih mencatatkan kenaikan 138 persen. Sementara itu, dalam tiga bulan terakhir, lonjakannya mencapai 690 persen.
Apa Daya Tarik INDS?
Founder WH Project, William Hartanto, menjelaskan bahwa pergerakan saham INDS dinilainya tidak ditopang fondasi yang kuat sejak awal kenaikan.
“Saya sendiri tidak tahu apa daya tarik dari INDS. Yang saya perhatikan sejak kenaikannya sendiri (sebelum ARB) itu tidak ada akumulasinya sama sekali. Sepertinya memang awareness yang dipaksakan ke publik saja untuk menghasilkan kenaikan sementara,” kata William, Selasa (24/2/2026).
William menambahkan, kondisi pasar belakangan ini juga turut memengaruhi perubahan perilaku investor ritel.
“Dan karena sekarang sudah mulai ada berita-berita tentang goreng saham dan influencer yang kena denda, pelaku pasar yang mayoritas ritel ini pun mulai sadar dan saling lomba melepas saham INDS, makanya sekarang ARB,” imbuh dia.
Valuasi Mahal
Saham INDS saat ini diperdagangkan pada valuasi premium, dengan price to earnings ratio (PER) mencapai 198,09 kali dan price to book value (PBV) sebesar 3,86 kali.
Jika ditelaah menggunakan pendekatan arus kas masa depan melalui model Discounted Cash Flow (DCF), harga wajar INDS diperkirakan berada di kisaran Rp59 per saham. Dengan demikian, harga saat ini tergolong sangat mahal atau overvalued dibandingkan nilai intrinsiknya.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan price to sales ratio (PS) perusahaan sejenis yang rata-rata berada di kisaran 1,3 kali, valuasi INDS juga terbilang tinggi karena saat ini diperdagangkan pada level PS sekitar 4,7 kali.
Kabar Teranyar
Kabar terbaru, INDS mulai memproduksi secara komersial lini bisnis fastener (U-Bolt) sejak 2025.
Produk tersebut disebut-sebut akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perseroan dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan strategi diversifikasi pasar dan ekspansi ke pasar global.
Direktur INDS Bob Budiono menjelaskan, pada tahap awal perseroan memfokuskan pemasaran fastener ke segmen aftermarket otomotif, sambil tetap membuka peluang investasi lanjutan untuk pengembangan fastener non-otomotif sebagai langkah diversifikasi risiko usaha.
“Tahun ini fokus kami masih aftermarket. Namun, kami juga menyiapkan opsi ekspansi ke fastener non-otomotif. Targetnya, Indospring bisa masuk tiga besar pemain fastener di pasar domestik dan menjadikan lini ini sebagai motor pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).
Menurut Bob, pabrik fastener Indospring kini telah beroperasi penuh, melengkapi portofolio bisnis perseroan yang sebelumnya didominasi oleh pegas daun, pegas keong, serta komponen sistem pengereman.
Dengan kapasitas produksi yang telah stabil, perseroan mulai mengarahkan strategi pada penguatan pasar ekspor.
Untuk 2026, Indospring membidik ekspor ke kawasan Timur Tengah, khususnya UAE dan Uzbekistan, serta pasar Amerika Serikat (AS).
Pemilihan wilayah tersebut didasarkan pada kesamaan spesifikasi kendaraan dengan Indonesia, terutama dominasi truk merek Jepang yang menggunakan model dan standar teknis serupa. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.