Saham Konglomerat BUMI, DEWA, hingga PTRO Jatuh, Antisipasi MSCI?
Sejumlah saham konglomerat, yang sebagian digadang-gadang masuk dalam indeks MSCI pada rebalancing Februari mendatang, ditutup jatuh pada Kamis.
IDXChannel – Sejumlah saham konglomerat, yang sebagian digadang-gadang masuk dalam indeks MSCI pada rebalancing Februari mendatang, ditutup jatuh pada perdagangan Kamis (22/1/2026).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham tambang batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, anjlok 9,84 persen ke Rp348 per unit.
Nilai transaksi saham emiten Grup Bakrie dan Grup Salim mencapai Rp4,12 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas jual-beli seiring tekanan jual yang mendominasi, dan menjadi yang tertinggi di pasar.
Saham Grup Bakrie lainnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), ditutup ambles 9,52 persen ke level Rp665 per saham. Nilai transaksinya juga terbilang jumbo, mencapai Rp904,26 miliar.
Pelemahan BUMI dan DEWA turut menyeret saham Bakrie lainnya. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tercatat turun tajam 9,62 persen, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkoreksi 2,77 persen.
Tekanan jual signifikan tidak hanya terjadi di saham Grup Bakrie. Saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu juga ikut terdampak, terutama PT Petrosea Tbk (PTRO) yang anjlok 12,93 persen ke posisi Rp10.775 per saham.
Sejalan dengan BUMI dan DEWA, nilai transaksi PTRO juga tercatat besar, yakni mencapai Rp1,52 triliun.
Kecuali PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang ditutup menguat 2,15 persen, saham-saham lain dalam kelompok Prajogo Pangestu kompak melemah, terseret kejatuhan PTRO.
Tekanan juga merambah saham-saham milik Happy Hapsoro, mitra bisnis yang dikenal dekat dengan Prajogo.
Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) merosot 8,76 persen, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) turun 7,32 persen, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 4,33 persen, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) terkoreksi 3,57 persen.
Aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar milik Grup Bakrie hingga Prajogo Pangestu tersebut pada akhirnya turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup turun 0,20 persen ke level 8.992,18.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan pada saham-saham tersebut tak lepas dari sikap investor yang mulai bersiap menyambut pengumuman perubahan metodologi perhitungan free float indeks global MSCI.
“Ini mendekati tenggat dari keputusan MSCI soal metodologi free float pada 30 Januari 2026. Melihat outflow yang terjadi, sepertinya ada aksi yang dilakukan investor dalam mengantisipasi pengumuman tersebut,” ujar Michael, Kamis (22/1/2026).
Di tengah tekanan tersebut, Michael melihat sejumlah saham masih memiliki area teknikal yang patut dicermati pelaku pasar.
“Sementara untuk BUMI, saham ini memiliki support kuat di area 350-330. Di area ini ada potensi bagi BUMI untuk rebound ke level 400,” kata dia.
Kemudian, Michael menambahkan, support saham DEWA berada di kisaran 650-600.
Pandangan yang berbeda disampaikan Founder WH Project William Hartanto. Ia menilai pelemahan saham-saham tersebut tidak sepenuhnya terkait dengan antisipasi pengumuman MSCI.
“Kecil kemungkinannya sebagai antisipasi terhadap MSCI, karena beberapa dari saham-saham tersebut justru diestimasikan bisa masuk ke dalam indeksnya,” kata William, Kamis (22/1).
Menurut William, tekanan harga yang terjadi lebih mencerminkan sinyal teknikal dibanding faktor sentimen indeks.
“Kalau penilaian saya secara teknikal, beberapa saham seperti BUMI, RAJA, dan RATU itu sudah patah tren, dengan posisi harga yang sudah turun di bawah garis moving average (MA)-20,” ujar dia.
Kondisi tersebut, lanjut William, mengindikasikan adanya aksi distribusi dalam skala besar.
Dengan kondisi pasar saat ini, William menyarankan investor untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. “Untuk kondisi sekarang, saran saya wait and see,” tutur William.
Sebelumnya, Indo Premier menempatkan BUMI sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk MSCI Standard Cap, disusul oleh PTRO. Saat ini, kedua saham tersebut telah tercatat sebagai konstituen MSCI IMI (Investable Market Index) dan MSCI Small Cap Index.
Pandangan serupa juga disampaikan Trimegah Sekuritas, yang menjagokan BUMI dan PTRO dalam rebalancing MSCI terdekat.
Sementara itu, CLSA Sekuritas memprediksi komposisi MSCI Indonesia Standard Cap akan diisi oleh BUMI dan PT MD Entertainment Tbk (FILM).
MSCI Kaji Hitungan Free Float
Pada 27 Oktober 2025, MSCI mengumumkan tengah mengkaji penggunaan laporan Monthly Holding Composition milik Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung porsi free float saham emiten Indonesia. Langkah ini dirancang dengan mempertimbangkan masukan dari para pelaku pasar.
Rencana tersebut memicu kekhawatiran, terutama karena perubahan metodologi dinilai berpotensi menurunkan bobot sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam indeks MSCI.
Mengacu pada penjelasan Stockbit Sekuritas, selama ini BEI hanya mewajibkan emiten melaporkan pemegang saham dengan kepemilikan minimal 5 persen.
Berbeda dengan itu, data KSEI mencakup kepemilikan di bawah 5 persen sekaligus klasifikasi pemegang saham, sehingga dinilai mampu memberikan gambaran struktur kepemilikan yang lebih menyeluruh.
Dalam usulannya, MSCI berencana menetapkan estimasi free float berdasarkan nilai terendah dari dua pendekatan, yakni perhitungan sesuai metodologi MSCI saat ini dan estimasi yang menggunakan data KSEI.
Dalam pendekatan berbasis data KSEI, saham script serta kepemilikan oleh korporasi dan kategori others, baik domestik maupun asing, akan diklasifikasikan sebagai non-free float.
Sebagai alternatif, MSCI juga mengusulkan perhitungan free float dengan tetap menggunakan data KSEI, namun hanya mengategorikan saham script dan kepemilikan korporasi sebagai non-free float, tanpa memasukkan kategori others.
MSCI menutup periode masukan publik pada 31 Desember 2025 dan berencana mengumumkan hasil konsultasi tersebut sebelum 30 Januari 2026. Apabila disetujui, perubahan metodologi ini akan mulai diterapkan pada proses index review Mei 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.