MARKET NEWS

Saham Migas-Batu Bara Dilanda Profit Taking di Tengah Sinyal Deeskalasi Perang

TIM RISET IDX CHANNEL 01/04/2026 12:13 WIB

Saham sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas) serta batu bara, cenderung melemah pada perdagangan Rabu (1/4/2026).

Saham Migas-Batu Bara Dilanda Profit Taking di Tengah Sinyal Deeskalasi Perang. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas) serta batu bara, cenderung melemah pada perdagangan Rabu (1/4/2026) di tengah pergerakan pasar yang masih berfluktuasi meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat.

Saham migas PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) merosot 4,98 persen ke Rp1.335 per saham hingga penutupan sesi I. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) anjlok 4,66 persen ke Rp1.740 per saham, sementara PT Elnusa Tbk (ELSA) melemah 2,68 persen ke Rp725 per saham.

Di sektor batu bara, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 4,88 persen ke Rp28.275 per saham, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melemah 3,77 persen, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terkoreksi 3,10 persen.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) justru menguat 2,33 persen, sementara PT ABM Investama Tbk (ABMM) turun 1,61 persen, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 0,87 persen, dan PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) turun 0,56 persen.

IHSG sendiri menguat 1,45 persen ke level 7.150,69, rebound setelah mengalami koreksi selama empat hari beruntun sebelumnya, seiring meningkatnya selera risiko global menyusul harapan meredanya konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, harga minyak dunia kembali menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (1/4/2026), didorong ketegangan di Timur Tengah yang masih membayangi pasar meskipun muncul laporan bahwa perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran berpotensi segera berakhir.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik USD1,40 atau 1,4 persen menjadi USD105,37 per barel pada pukul 11.30 WIB, setelah mencatat kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah pada Maret dengan lonjakan sekitar 64 persen.

Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei naik USD1,59 atau 1,6 persen menjadi USD102,97 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah harga sempat terkoreksi pada Selasa, menyusul laporan media yang belum terkonfirmasi bahwa Presiden Iran siap mengakhiri perang.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan operasi militer berpotensi berakhir dalam dua hingga tiga pekan, menandakan keinginannya mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan.

Meski demikian, analis menilai harga minyak masih akan bertahan tinggi karena kerusakan infrastruktur energi diperkirakan membuat pasokan tetap ketat.

Analis pasar senior di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan normalisasi rantai pasok minyak tidak akan terjadi dengan cepat.

“Meski konflik mereda, arus tanker tidak akan langsung kembali normal. Biaya pengiriman, asuransi, dan pergerakan kapal membutuhkan waktu untuk pulih, sementara kerusakan infrastruktur baru bisa dinilai setelah situasi stabil,” ujar Sachdeva, seperti dikutip Reuters.

Laporan The Wall Street Journal juga menyebutkan Trump berpotensi mengakhiri perang sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG global.

Sementara itu, riset Capital Economics yang dikutip Dow Jones Newswires menilai harga minyak masih berpeluang tetap tinggi meski perang segera berakhir.

Capital Economics memperkirakan Brent berada di kisaran USD80 per barel pada akhir 2026, dengan premi risiko energi yang masih bertahan akibat potensi kerusakan moderat pada  infrastruktur energi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE