MARKET NEWS

Saham Prajogo Pangestu Rebound, TPIA-CUAN Naik Belasan Persen

TIM RISET IDX CHANNEL 26/05/2026 10:01 WIB

Saham-saham Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu berusaha bangkit pada perdagangan Selasa (26/5/2026), setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu.

Saham Prajogo Pangestu Rebound, TPIA-CUAN Naik Belasan Persen. (Foto: Prajogo)

IDXChannel - Saham-saham Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu berusaha bangkit pada perdagangan Selasa (26/5/2026), setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir akibat sentimen rebalancing MSCI.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.53 WIB, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melonjak 15,58 persen ke Rp2.040 per unit, usai sempat menyentuh Rp2.200 per unit.

Penguatan pagi ini sekaligus menjadi upaya saham TPIA memutus tren pelemahan yang telah berlangsung selama 7 hari perdagangan berturut-turut.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap TPIA dipicu potensi keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI setelah perubahan data kepemilikan saham yang dibuka oleh BEI membuat kapitalisasi pasar free float perseroan tidak lagi memenuhi ambang batas indeks global tersebut.

“TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold,” ujar Michael, Kamis (21/5/2026) pekan lalu.

Dia memperkirakan keluarnya TPIA dari indeks MSCI berpotensi memicu arus dana keluar (outflow) sekitar Rp2 triliun dari investor pasif global.

Menurut Michael, tekanan jual terhadap saham TPIA dan saham-saham Grup Barito yang berkaitan dengan MSCI diperkirakan masih berlanjut hingga periode penyesuaian indeks MSCI berikutnya pada Juni 2026.

Di tengah tekanan tersebut, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) buka suara terkait ramainya spekulasi di media sosial mengenai dugaan margin call atas saham TPIA di tengah tekanan tajam yang terjadi pada saham-saham Grup Barito dalam beberapa hari terakhir.

Isu tersebut ramai diperbincangkan di platform X maupun Instagram setelah sejumlah akun mengaitkan pelemahan saham TPIA dengan potensi tekanan pada fasilitas pembiayaan berbasis jaminan saham.

Di Instagram, sebuah akun edukasi pasar modal menarasikan bahwa pelemahan beruntun saham TPIA yang kerap menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen memunculkan dugaan margin call pada Grup Barito.

Sebuah unggahan bahkan menyebut saham TPIA dijadikan jaminan oleh BRPT dan Prajogo Pangestu kepada sejumlah bank, sekaligus memperkirakan level harga yang dinilai dapat memicu margin call di masing-masing kreditur.

Merespons informasi yang beredar tersebut, Corporate Communication Barito Pacific menegaskan seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham perseroan dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur.

“Seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham oleh Barito Pacific dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. Penjaminan saham juga mencakup mekanisme dalam memitigasi terjadinya volatilitas pasar” tulis manajemen dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026) lalu.

Perseroan menambahkan, mekanisme penjaminan saham juga telah dirancang untuk memitigasi volatilitas pasar. Selain itu, BRPT mengaku terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

Di tengah gejolak harga saham, manajemen menegaskan kondisi operasional dan fundamental bisnis Barito Pacific maupun anak usahanya tetap solid dan resilien.

Selain TPIA, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melambung 12,14 persen ke Rp550 per unit, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 10,14 persen, PT Petrosea Tbk (PTRO) 10,34 persen.

Kemudian, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terkerek 6,80 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 0,84 persen.

Tekanan terhadap saham-saham Grup Barito belakangan ini terjadi seiring kombinasi sentimen negatif, mulai dari rebalancing indeks global MSCI, pengumuman FTSE Russell terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC), hingga meningkatnya aksi jual asing terhadap saham-saham konglomerasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE