Saham SPRE ARB Beruntun usai Calon Pengendali Baru Batalkan Akuisisi
Saham PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) menyentuh batas auto reject bawah (ARB) secara beruntun, seiring dengan belum meredanya tekanan jual.
IDXChannel - Saham PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) menyentuh batas auto reject bawah (ARB) secara beruntun, seiring dengan belum meredanya tekanan jual. Kondisi ini terjadi setelah calon pengendali baru membatalkan rencana akuisisi terhadap perseroan.
Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), harga saham SPRE kembali ditutup turun 10 persen ke Rp142. Dalam catatan IDX Channel, saham SPRE menyentuh batas ARB selama sembilan hari beruntun setelah suspensi dibuka.
Selama sembilan hari tersebut, broker Stockbit Sekuritas (XL) menjadi pihak pembeli (buyer) terbesar dengan akumulasi Rp2,9 miliar, sedangkan broker Valbury Sekuritas (CP) menjadi penjual (seller) terbesar senilai Rp900 juta.
Penurunan tersebut membuat harga saham SPRE melemah 60 persen dari harga tertingginya di level Rp356. Pelemahan yang terjadi sekaligus mendorong nilai kapitalisasi pasar perseroan ikut menyusut menjadi Rp114 miliar.
Saiko Consultancy Pte. Ltd., perusahaan asal Singapura yang sebelumnya tertarik mengambil alih SPRE tiba-tiba membatalkan rencananya tersebut. Langkah ini diambil setelah pengendali SPRE saat ini, Rizet Ramawi terikat dengan komitmennya saat IPO untuk menjadi pengendali sekaligus pengurus perseroan sedikitnya lima tahun terhitung 3 Juli 2024.
Direktur Saiko Consultancy, Mark Leong Kei Wei mengatakan, Rizet selaku pengendali berkomitmen untuk tetap menjadi pengendali. Hal itu terungkap setelah rapat bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 Januari 2026 yang mengingatkan soal komitmen Rizet.
"Dengan demikian, sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut, rencana pengambilalihan atas perseroan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd menjadi batal," katanya.
Saat ini, Saiko Consultancy masih berdiskusi soal struktur alternatif lain. Calon pengendali baru ini berjanji akan menginformasikan jika terdapat perkembangan lebih lanjut atas rencana akuisisi atas perseroan.
Terpisah, Corporate Secretary SPRE, Arienita Noer memastikan kegiatan usaha perseroan masih tetap berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
"Perseroan secara umum berfokus pada keberlanjutan operasional dan peningkatan kinerja keuangan," katanya.
Meski terkoreksi cukup dalam, harga saham SPRE pada periode Juli-September 2025 tercatat di bawah level Rp100. Sahamnya sempat naik perlahan sejak Oktober 2025, sebelum naik tajam pada Januari 2026, tersengat sentimen akuisisi.
(Rahmat Fiansyah)