MARKET NEWS

Sektor Batu Bara Dinilai Tetap Tangguh, Saham Mana Paling Menarik?

TIM RISET IDX CHANNEL 23/04/2026 06:53 WIB

Prospek sektor batu bara masih bertahan kuat hingga 2026, ditopang keseimbangan pasokan dan permintaan global yang relatif ketat.

Sektor Batu Bara Dinilai Tetap Tangguh, Saham Mana Paling Menarik? (Foto: iStock)

IDXChannel - Prospek sektor batu bara masih bertahan kuat hingga 2026, ditopang keseimbangan pasokan dan permintaan global yang relatif ketat.

Harga pun mulai pulih dari titik terendahnya, dengan peluang bertahan di level tinggi dalam jangka menengah.

Namun, di balik ketahanan tersebut, dinamika sektor mulai bergeser. Kenaikan harga tidak lagi sepenuhnya menjadi penopang kinerja, seiring tekanan biaya yang meningkat dan membatasi ruang ekspansi margin emiten.

BRI Danareksa Sekuritas, dalam laporan pada 22 April 2026, misalnya, melihat prospek sektor batu bara tetap positif di tahun ini.

Hasil channel check terbaru menunjukkan pasar batu bara thermal global masih berada dalam kondisi ketat dari sisi pasokan dan permintaan, yang pada akhirnya menopang harga tetap kuat hingga 2026.

Dari sisi pasokan, sejumlah faktor masih menjadi penahan ekspansi produksi.

BRI Danareksa mencatat normalisasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) di Indonesia belum sepenuhnya pulih, sementara kebijakan kuota produksi turut membatasi ruang ekspor.

Di saat yang sama, ketersediaan batu bara kalori menengah (mid-CV) masih terbatas, ditambah potensi gangguan suplai dari Australia.

Sementara itu, permintaan global justru menunjukkan ketahanan.

China mulai melakukan restocking untuk mengamankan kebutuhan energi, sedangkan India mencatat peningkatan konsumsi seiring tingginya kebutuhan listrik.

Di kawasan Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, permintaan terdorong oleh peralihan bahan bakar (fuel switching).

Negara-negara Asia Selatan dan ASEAN masih membutuhkan tambahan pasokan, sementara permintaan domestik Indonesia cenderung stabil.

“Kombinasi pasokan terbatas dan permintaan solid membuka ruang harga batu bara bertahan tinggi serta berpotensi menguat di 2026,” tulis BRI Danareksa.

Dalam lanskap tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight secara taktis untuk tiga bulan ke depan.

Sejumlah saham yang menjadi pilihan utama antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Di sisi lain, riset Sucor Indonesia yang terbit pada 14 April 2026 melihat pemulihan harga pada awal 2026 lebih mencerminkan perbaikan jangka pendek dibanding awal siklus kenaikan baru.

Hal ini tercermin dari pergerakan indeks acuan, di mana ICI-4 naik 7 persen secara tahunan dan 13 persen secara kuartalan, sementara ICI-3 memang turun 2 persen secara tahunan, tetapi menguat 8 persen secara kuartalan pada kuartal I-2026.

Sucor Indonesia menilai perbaikan ini menandakan harga telah melewati titik terendah pada paruh kedua 2025.

Kenaikan harga energi global, terutama minyak dan LNG akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, membuat pembangkit listrik berbasis gas menjadi lebih mahal.

Kondisi ini mendorong peralihan konsumsi ke batu bara (gas-to-coal switching), sehingga permintaan jangka pendek ikut menguat.

Meski begitu, kata analis Sucor, pemulihan ini dinilai lebih didorong sentimen dan substitusi energi, bukan perbaikan fundamental yang luas.

Di sisi lain, kenaikan harga jual rata-rata (ASP) belum sepenuhnya berdampak pada laba emiten.

Tekanan biaya menjadi faktor utama, mulai dari kenaikan harga bahan bakar seiring lonjakan minyak, hingga implementasi mandatori biodiesel B50 yang berpotensi menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya perawatan.

Selain itu, rencana pungutan ekspor sebesar 1-5 persen turut menambah beban.

Akibatnya, ruang ekspansi margin tetap terbatas dan profitabilitas sektor kini lebih ditentukan oleh efisiensi biaya.

Ke depan, harga batu bara pada 2026 diperkirakan bergerak stabil di kisaran USD110-USD120 per ton.

Level ini dinilai cukup kuat sebagai penopang (floor), didukung disiplin pasokan Indonesia melalui pembatasan RKAB serta tekanan biaya global.

Namun, kisaran tersebut belum cukup untuk mendorong siklus kenaikan laba yang signifikan.

Permintaan global, khususnya dari China, juga cenderung melemah karena negara tersebut masih memprioritaskan pasokan domestik.

Dengan kondisi tersebut, batu bara dipandang lebih sebagai komoditas defensif ketimbang pendorong kinerja siklikal.

Meski demikian, potensi kenaikan tetap terbuka jika harga LNG tetap tinggi dan mendorong peralihan ke pembangkit batu bara.

Dalam lanskap ini, Sucor Indonesia menekankan pentingnya efisiensi biaya sebagai pembeda utama kinerja emiten. Produsen berbiaya rendah dinilai lebih mampu menjaga margin di tengah tekanan biaya.

Sucor pun mempertahankan rekomendasi beli untuk AADI dengan target harga Rp30.100 per unit, seiring prospek margin yang lebih terjaga, volume stabil, serta arus kas yang kuat. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE