MARKET NEWS

Survei Konsumen Meningkat, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.805 per USD

Anggie Ariesta 09/02/2026 16:19 WIB

Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.805 per USD, menguat 71 poin atau 0,42 persen.

Survei Konsumen Meningkat, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.805 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/2/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.805 per USD, menguat 71 poin atau 0,42 persen.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai faktor eksternal maupun internal menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan mata uang.

Dari eksternal, Washington dan Teheran memberi sinyal bahwa pembicaraan nuklir antara keduanya sebagai sebuah Langkah maju. 

"Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Fokus minggu ini juga pada sejumlah data ekonomi. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data indeks CPI akan dirilis pada Jumat. 

Data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Di China, data CPI untuk Januari akan dirilis pada Jumat, memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai importir minyak terbesar di dunia itu.

Data tersebut dirilis tepat sebelum China memasuki liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu, sebuah peristiwa yang diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan bahan bakar di negara tersebut.

Dari internal, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penerimaan pajak 2026 bisa melampaui target yang ditetapkan pada APBN yakni Rp2.357,7 triliun. 

Optimisme tersebut diungkap Purbaya di tengah basis pertumbuhan penerimaan pajak tahun lalu yang rendah sehingga turut menjadi sorotan lembaga pemeringkat asing.  

Untuk diketahui, pemerintah memasang target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp2.357,7 triliun atau tumbuh 7,69 persen (YoY) dari target APBN 2025 yakni Rp2.189,3 triliun.  

Masalahnya, realisasi penerimaan pajak tahun lalu hanya Rp1.917,6 triliun sehingga terjadi shortfall sebesar Rp271,7 triliun. Artinya, basis pertumbuhan dari realisasi tahun lalu untuk mengejar target tahun ini menjadi lebih tinggi yakni 22,9 persen (YoY). 

Dengan kata lain, pemerintah harus mengejar tambahan setoran Rp440,1 triliun untuk mencapai target 2026  dari basis realisasi 2025.  

"Namun demikian, tampaknya Menkeu Purbaya tetap optimistis, tahun ini bisa mengumpulkan penerimaan pajak hingga melampaui target. Optimisme itu muncul usai realisasi penerimaan pajak Januari 2026 melonjak 30,8 persen (YoY)," kata Ibrahim.

Kemudian, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025 (127,2). 

IKK merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga. IKK menggunakan tahun acuan dengan nilai 100. Artinya indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan. 

Dari berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat direntang  Rp16.760- Rp16.800 per USD.

(NIA DEVIYANA)

SHARE