Tekanan Eksternal Berlanjut, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.758 per USD
Kurs rupiah turun 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp16.758 per USD.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026) terpantau melemah. Melansir Bloomberg, kurs rupiah turun 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp16.758 per USD.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan mata uang masih didominasi sentimen eksternal, pascapenangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Penangkapan Maduro, yang menurut Presiden AS Donald Trump dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengejutkan pasar global minggu ini. Trump mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sementara itu, data ekonomi AS mengungkapkan bahwa bisnis manufaktur terus menunjukkan prospek yang suram.
Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk Desember 2025 turun menjadi 47,9, meleset dari perkiraan 48,3 dan turun dari 48,2 pada November. Hal ini menandakan penurunan lebih lanjut dalam aktivitas manufaktur.
Angka tersebut menandai bulan kontraksi kesepuluh berturut-turut dan menggarisbawahi pelemahan yang terus-menerus di sektor ini.
Selain itu, komentar dari Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari yang tetap bersikap hawkish, mengatakan bahwa inflasi tetap terlalu tinggi, memberi sinyal bahwa kebijakan moneter sekarang lebih dekat ke posisi netral.
Dia juga menggambarkan pasar tenaga kerja berada dalam lingkungan "perekrutan rendah, pemecatan rendah", menunjukkan perputaran yang terbatas daripada penurunan yang nyata.
Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat laju inflasi di Jakarta sepanjang 2025 berada dalam kondisi yang terjaga. Inflasi tahunan Jakarta tercatat sebesar 2,63 persen, masih berada dalam rentang sasaran pemerintah yakni 2,5 persen dengan deviasi plus minus 1.
Laju inflasi year-on-year (yoy) ini dipicu oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,69 pada Desember 2024 menjadi 108,47 pada Desember 2025. Kenaikan harga terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat, dengan sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.750-Rp16.780 per USD.
(NIA DEVIYANA)