MARKET NEWS

Tekanan Global Bayangi Sektor Teknologi, Dua Saham Ini Jadi Sorotan

TIM RISET IDX CHANNEL 09/07/2026 06:40 WIB

Prospek sektor teknologi menghadapi tantangan yang semakin berat pada tahun ini.

Tekanan Global Bayangi Sektor Teknologi, Dua Saham Ini Jadi Sorotan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Prospek sektor teknologi menghadapi tantangan yang semakin berat pada tahun ini.

Lonjakan harga minyak, suku bunga global yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama, serta kenaikan tajam harga chip memori akibat booming kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan menekan kinerja perusahaan teknologi, khususnya yang masih bergantung pada impor perangkat keras.

Pandangan tersebut disampaikan analis Sucor Sekuritas Dicky Susilo Adi dalam riset yang diterbitkan pada 7 Juli 2026.

Meski memangkas target harga PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI), Dicky tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor teknologi serta rekomendasi beli bagi kedua saham tersebut.

Target harga MTDL diturunkan menjadi Rp560 per unit, sedangkan MSTI menjadi Rp1.450 per unit.

Menurut Dicky, prospek jangka pendek sektor teknologi kini menghadapi tantangan yang lebih besar setelah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah memicu tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama, dengan kisaran 3,50-3,75 persen hingga akhir 2026.

Kondisi itu mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global, memperlebar premi risiko pasar negara berkembang, serta meningkatkan biaya modal (cost of capital) perusahaan.

Dampaknya, valuasi yang layak untuk saham-saham teknologi ikut mengalami penyesuaian.

Selain tekanan makro, industri juga menghadapi lonjakan biaya komponen akibat meningkatnya belanja infrastruktur AI di seluruh dunia.

Permintaan besar terhadap chip memori memicu kelangkaan pasokan, sehingga harga komponen utama untuk perangkat keras, server, penyimpanan data, hingga sistem teknologi informasi perusahaan terus meningkat.

Mengacu pada proyeksi Gartner, harga DRAM diperkirakan naik 125 persen secara tahunan pada 2026, sedangkan NAND berpotensi melonjak 234 persen. Tekanan harga tersebut diperkirakan baru mulai mereda pada akhir 2027.

Bagi MTDL dan MSTI, kondisi ini menjadi tantangan karena sebagian besar biaya pengadaan masih menggunakan dolar AS, sementara mayoritas pendapatan diperoleh dalam rupiah.

Dengan kurs dolar AS terhadap rupiah yang masih berada di sekitar Rp18.000 per USD, kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan menjadi semakin terbatas.

Akibatnya, margin laba kotor berpotensi tertekan, sementara pelanggan juga diperkirakan lebih berhati-hati dalam merealisasikan belanja modal karena harga perangkat keras yang semakin mahal.

Sucor Sekuritas pun memangkas proyeksi laba MTDL sebesar 6-7 persen untuk periode 2026-2027, sedangkan estimasi laba MSTI dipotong lebih dalam, yakni 10-12 persen.

Revisi tersebut mempertimbangkan tiga faktor utama, yakni penurunan margin bisnis perangkat keras, perlambatan pertumbuhan volume penjualan akibat mahalnya harga memori, serta lebih lambatnya realisasi proyek pemerintah maupun pelanggan di sektor yang diatur regulator karena ketidakpastian ekonomi.

Meski demikian, Dicky menilai penurunan proyeksi laba MTDL relatif lebih terbatas karena perusahaan memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam, mulai dari distribusi, solusi teknologi, hingga layanan konsultasi TI. Diversifikasi tersebut dinilai mampu membantu meredam tekanan margin.

Sebaliknya, MSTI dinilai lebih rentan terhadap tekanan karena porsi bisnis perangkat keras dan proyek masih lebih dominan.

Kenaikan biaya komponen maupun penundaan belanja pelanggan berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap kinerja perseroan.

Walaupun memangkas proyeksi laba dan menaikkan asumsi biaya modal sebesar 50-100 basis poin, Sucor Sekuritas menilai koreksi harga saham saat ini telah mencerminkan sebagian besar risiko makro yang dihadapi sektor teknologi.

Di sisi lain, kedua emiten masih ditopang pendapatan berulang (recurring revenue), neraca keuangan yang kuat dengan posisi kas bersih atau tingkat utang yang rendah, serta permintaan jangka panjang dari transformasi digital perusahaan, pengembangan layanan cloud, keamanan siber, dan infrastruktur AI.

Di antara keduanya, MTDL tetap menjadi pilihan utama berkat kualitas laba yang lebih defensif.

Sementara itu, MSTI dinilai menawarkan potensi kenaikan harga saham dan imbal hasil dividen yang lebih tinggi, meski dengan risiko volatilitas yang lebih besar karena bisnisnya lebih bergantung pada siklus proyek. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE