Wall Street Dibuka Melemah, Pasar Khawatir dengan Independensi The Fed
Indeks saham utama AS dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/1/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap independensi The Fed.
IDXChannel – Indeks saham utama AS dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/1/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral setelah pemerintahan Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan terhadap Federal Reserve (The Fed).
Sentimen pasar juga tertekan oleh rencana pemerintah AS untuk memberlakukan batas suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen mulai 20 Januari, yang langsung membebani saham-saham sektor keuangan.
Pemerintahan Trump bahkan mengancam akan mendakwa Ketua The Fed Jerome Powell terkait kesaksiannya di Kongres mengenai proyek renovasi gedung bank sentral. Powell menilai langkah tersebut hanya dijadikan dalih untuk meningkatkan pengaruh pemerintah terhadap kebijakan suku bunga yang sejak awal masa jabatan Trump didorong untuk dipangkas agresif.
Pendiri Reflexifity, Giuseppe Sette menilai, ketegangan tersebut menunjukkan konflik terbuka antara Gedung Putih dan The Fed. Dia mengatakan, pasar tetap berada dalam tren positif meskipun tekanan kebijakan meningkat.
“Pada akhirnya, pasar bullish masih memiliki ruang untuk berlanjut dan peluang kenaikan tetap terbuka terlepas dari dinamika kebijakan internal maupun eksternal,” ujarnya dikutip dari Reuters.
Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka melemah 0,79 persen ke 49.114, S&P 500 turun 0,27 persen ke 6.947, sementara Nasdaq terkoreksi tipis 0,03 persen ke 23.664.
Fokus pasar kini beralih ke musim laporan keuangan kuartal IV-2025, yang pekan ini akan dibuka oleh JPMorgan Chase. Saham-saham perbankan dan penyedia kartu kredit seperti Citigroup, American Express, dan Bank of America tertekan imbas rencana Trump membatasi bunga kartu kredit.
Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Selasa, yang dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan The Fed ke depan.
(Rahmat Fiansyah)