MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Menghijau, Saham-Saham Teknologi Rebound

Rahmat Fiansyah 15/01/2026 22:30 WIB

Indeks utama Wall Street dibuka menguat pada Kamis (15/1/2025) waktu Amerika Serikat (AS) ditopang saham teknologi.

Indeks utama Wall Street dibuka menguat pada Kamis (15/1/2025) waktu Amerika Serikat (AS) ditopang saham teknologi. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka menguat pada Kamis (15/1/2025) waktu Amerika Serikat (AS) ditopang saham teknologi usai produsen chip Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar.

Selain itu, investor juga mencermati laporan keuangan sejumlah bank besar AS yang menutup musim rilis kinerja keuangan. Saham-saham keuangan sebelumnya tertekan akibat rencana kebijakan pembatasan bunga kartu kredit.

Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 51,5 poin atau 0,10 persen ke level 49.201,1. Indeks S&P 500 menguat 42,9 poin atau 0,62 persen ke 6.969,46, sementara Nasdaq Composite melonjak 222,2 poin atau 0,95 persen ke posisi 23.693,97.

Penguatan ini terjadi setelah Wall Street melemah pada perdagangan sebelumnya, ketika investor melepas saham teknologi dan saham perbankan. Tekanan jual tersebut memperpanjang awal yang suram pada musim laporan keuangan kuartal keempat.

Pada perdagangan Rabu, Nasdaq Composite sempat anjlok lebih dari 1 persen sebelum memangkas penurunan. S&P 500 turun 0,5 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi sekitar 0,1 persen, menjauh dari rekor tertinggi yang sebelumnya sempat dicapai.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Nvidia melemah meski pemerintah AS memberikan lampu hijau atas ekspor chip ke China, di tengah laporan potensi pembatasan lanjutan. Saham Tesla, Broadcom, dan Oracle juga mencatatkan penurunan signifikan.

Dari sektor perbankan, Bank of America dan Wells Fargo membukukan lonjakan laba berkat aktivitas perdagangan yang solid. Namun, saham keduanya justru turun, sejalan dengan penurunan saham Citigroup, memperpanjang sentimen negatif yang sebelumnya dipicu laporan kinerja JPMorgan Chase.

Dari sisi makroekonomi, investor mencermati data inflasi produsen yang melengkapi rilis inflasi konsumen sebelumnya. Serangkaian data tersebut menunjukkan tekanan harga masih bertahan, memperkuat ekspektasi bank sentral AS akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, meski peluang dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini masih terbuka.

Di sisi lain, harga logam mulia melanjutkan reli tajam. Emas dan perak mencetak rekor tertinggi baru, dengan harga perak menembus level USD90. Kenaikan ini turut didorong meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan politik terhadap bank sentral AS. Presiden AS Donald Trump menegaskan jika Mahkamah Agung membatasi kewenangannya dalam penetapan tarif, maka situasinya akan sangat buruk.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE