Wall Street Dibuka Turun usai Harga Minyak Tembus USD100 per Barel
Pasar saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), setelah harga minyak menghentikan penurunan selama sepekan.
IDXChannel - Pasar saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), setelah harga minyak menghentikan penurunan selama sepekan. Meski begitu, Wall Street masih bergerak di dekat level tertingginya sepanjang masa.
Dikutip dari AP, indeks S&P 500 turun 0,1 persen pada awal perdagangan dan berada sekitar 0,5 persen di bawah rekor yang dicapai bulan lalu. Dow Jones Industrial Average turun 107 poin atau 0,2 persen, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,3 persen dari rekor tertingginya.
Tekanan terhadap saham muncul setelah harga minyak Brent naik 1,3 persen menjadi USD100,55 per barel. Kenaikan itu mengakhiri tren penurunan harga minyak yang sebelumnya terjadi sejak Brent hampir menyentuh USD110 per barel pada pekan lalu.
Harga minyak sebelumnya tertekan oleh kekhawatiran bahwa perang dengan Iran akan membuat pasokan minyak tertahan di kawasan Timur Tengah dalam waktu lama. Perundingan antara pejabat AS dan Iran dengan mediator masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Meskipun turun dalam sepekan terakhir, harga Brent masih jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar USD72 per barel sebelum perang dengan Iran dimulai. Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury lebih tinggi.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik menjadi 4,99 persen dari 4,96 persen pada akhir perdagangan Selasa (22/9/2026). Pada pekan lalu, imbal hasil tersebut sempat menembus 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2023, dipicu kekhawatiran terhadap harga minyak yang tinggi, peningkatan utang pemerintah AS, dan sejumlah risiko lainnya.
Di tengah tekanan tersebut, pertumbuhan laba perusahaan AS yang kuat membantu Wall Street tetap bergerak mendekati rekor. Namun, sejumlah perusahaan mulai memberikan sinyal mengenai tekanan terhadap konsumen dan pasar perumahan.
KB Home mencatat laba kuartalan yang lebih tinggi dari ekspektasi analis. Namun, saham perusahaan pengembang perumahan tersebut turun 1 persen setelah Executive Chairman Jeffrey Mezger mengatakan kondisi pasar perumahan melemah dalam tiga bulan terakhir.
"Calon pembeli menjadi lebih berhati-hati karena kenaikan suku bunga hipotek, serta tekanan dari ketidakpastian geopolitik dan tantangan ekonomi yang lebih luas," kata Mezger.
General Mills juga membukukan laba kuartalan di atas ekspektasi analis. Namun, kenaikan biaya menekan margin perusahaan yang memproduksi merek Cheerios dan Progresso tersebut. General Mills memperkirakan pertumbuhan pada tahun fiskal ini berada di bawah kinerja historis karena kondisi konsumen yang masih menantang dan tidak menaikkan proyeksi laba setahun penuh. Sahamnya turun 1,2 persen.
Konsumen AS juga semakin pesimistis terhadap kondisi keuangan mereka di tengah kenaikan harga bahan bakar, bahan makanan, dan berbagai kebutuhan hidup.
Di pasar global, indeks saham di sejumlah wilayah Eropa dan Asia turut melemah. Indeks Hong Kong turun 1 persen dan Shanghai terkoreksi 0,4 persen menjelang kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Washington yang dimulai Rabu. Xi dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan ketiga sejak Trump kembali ke Gedung Putih, di tengah hubungan kedua negara yang masih menghadapi isu perdagangan, kecerdasan buatan, Iran, dan Taiwan.
(Rahmat Fiansyah)