Wall Street Ditutup Anjlok usai Kunjungan Trump ke China Tak Hasilkan Terobosan Besar
Wall Street ditutup anjlok pada hari Jumat, karena beberapa faktor termasuk tidak adanya terobosan besar yang diharapkan dari kunjungan Trump ke China
IDXChannel - Wall Street ditutup anjlok pada hari Jumat (15/5/2026), karena beberapa faktor termasuk tidak adanya terobosan besar yang diharapkan dari kunjungan Presiden Donald Trump ke China.
Selain itu, didorong oleh aksi jual obligasi global yang tajam karena para pedagang khawatir akan guncangan inflasi yang muncul dari konflik Timur Tengah.
Dilansir dari laman Investing Sabtu (16/5/2026), investor juga sedikit beristirahat setelah kenaikan luar biasa untuk saham AS, dengan indeks acuan S&P 500 dan NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi mencatatkan serangkaian penutupan rekor.
S&P turun 1,3 persen menjadi 7.407,52 poin sementara Nasdaq turun 1,5 persen menjadi 26.225,15 poin. Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham unggulan turun 1,1 persen menjadi 49.526,11 poin.
Secara umum, kinerja mingguan indeks relatif tenang, dengan S&P hanya mencatatkan kenaikan 0,1 persen. Nasdaq dan Dow Jones masing-masing turun 0,1 persen dan 0,2 persen.
"Saham-saham mengalami overbought dan membutuhkan sesuatu untuk memicu koreksi. Pergerakan harga minyak dan suku bunga hari ini tampaknya menjadi pemicunya. Obligasi pemerintah 10 tahun yang mendekati 4,6 persen, dan siap menembus level tersebut adalah level yang telah membuat investor ekuitas khawatir dalam beberapa waktu terakhir, yang memicu koreksi harga," kata Mark Luschini, Kepala Strategi Investasi di Janney Montgomery Scott, kepada Investing.com.
"Ditambah dengan lonjakan harga minyak yang kembali terjadi dan durasi penutupan Selat Hormuz yang semakin panjang, kekhawatiran akan inflasi yang terus-menerus dan prospek kebijakan moneter yang lebih agresif semakin meningkat," tutur Luschini.
Trump Meninggalkan China dengan Sedikit Hasil
Kunjungan Trump ke China berakhir pada hari Jumat. Video yang diunggah oleh pemerintahannya menunjukkan presiden menaiki Air Force One dan mengakhiri perjalanan pertama presiden AS yang sedang menjabat ke negara Asia tersebut sejak kunjungan Trump sendiri pada 2017.
Trump dan Presiden China Xi Jinping menyelesaikan putaran kedua pembicaraan pada hari Jumat. Media pemerintah China mengatakan kedua pemimpin tersebut juga mengadakan pertemuan pribadi.
Namun, detail lebih lanjut tentang kesepakatan perdagangan apa yang dicapai masih minim. Beijing juga telah menandai Taiwan sebagai fokus utama pembicaraan tersebut.
Dalam wawancara Fox News yang ditayangkan Kamis malam, Trump mengklaim bahwa China telah setuju untuk membeli minyak dari AS setelah pembicaraannya dengan Xi. Trump juga memuji komitmen China untuk membeli jet Boeing, barang-barang pertanian, dan membuka negara tersebut untuk Visa, meskipun detailnya masih belum jelas.
Meski demikian, optimisme atas kesepakatan perdagangan yang muncul dari kunjungan tersebut telah meningkatkan sentimen pada hari Kamis.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa Nvidia telah diizinkan oleh AS untuk menjual chip kecerdasan buatan terkuat kedua ke 10 perusahaan di China, sehingga mengangkat harga saham ke rekor tertinggi dan mendorong pasar yang lebih luas.
CEO Nvidia, Jensen Huang, termasuk di antara para eksekutif yang berada di China. Namun, Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, mengatakan bahwa kontrol ekspor chip Washington "bukan topik utama diskusi."
Dalam pembicaraan antara Trump dan Xi, isu perang Iran juga kurang mendapat perhatian. Trump mengatakan Xi ingin melihat kesepakatan damai antara pihak-pihak yang bertikai. China juga menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka dan tidak mendukung Iran mengenakan biaya tol untuk melintasi jalur air vital tersebut.
Bahkan, Trump mengklaim China tidak akan mengirimkan peralatan militer ke Iran. Trump kembali meningkatkan retorikanya terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa ia "tidak akan lebih sabar lagi" dan mendesak Teheran untuk menerima kesepakatan perdagangan. Ia juga mengancam akan melakukan serangan militer yang lebih melemahkan terhadap Iran, setelah sebelumnya pekan ini memperingatkan bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung antara AS dan Iran berada dalam "kondisi kritis".
"Kunjungan Trump ke China tampaknya tidak menghasilkan terobosan besar pada topik-topik penting bagi pasar, dan beberapa berita utama yang muncul dari pertemuan puncak tersebut (seperti pesanan Boeing) kurang memuaskan. Trump mungkin akan lebih banyak berbicara tentang kunjungannya ke China, tetapi ini mungkin tidak akan mengubah fakta bahwa pertemuan dengan Xi terasa antiklimaks)," kata Para Analis di Vital Knowledge yang dipimpin oleh Adam Crisafulli.
(kunthi fahmar sandy)