MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Melemah, Data Inflasi Naikkan Prospek Suku Bunga The Fed

Nia Deviyana 15/10/2026 06:15 WIB

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026) waktu setempat didorong data inflasi yang tinggi dari perkiraan.

Wall Street Ditutup Melemah, Data Inflasi Naikkan Prospek Suku Bunga The Fed. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026) waktu setempat didorong data inflasi yang tinggi dari perkiraan. Hal ini menambah kekhawatiran Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga. 

Kekhawatiran tersebut menekan saham Oracle, CoreWeave, dan saham-saham kecerdasan buatan (AI) lainnya yang sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman.

Melansir Reuters, S&P 500 turun 1,11 persen dan ditutup pada level 7.718,94, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 29 Juli.

Nasdaq merosot 1,88 persen ke level 26.692,87, menjadi penurunan harian terbesar sejak 23 Juli. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,09 persen ke level 51.621,48.

Meningkatnya spekulasi bahwa The Fed perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi memberikan tekanan besar terhadap sejumlah saham yang mencatatkan kenaikan terbesar di pasar pada 2026. Saham Oracle (ORCL.N) anjlok 8,8 persen, sementara perusahaan infrastruktur AI CoreWeave (CRWV.O) dan Nebius (NBIS.O) masing-masing merosot 15 persen dan 10 persen.

Saham Dell (DELL.N) dan Hewlett Packard Enterprise (HPE.N) masing-masing merosot 11,4 persen dan 8,2 persen setelah Barclays menurunkan rekomendasi saham kedua produsen server AI tersebut menjadi equal-weight dari sebelumnya overweight.

Indeks Semikonduktor Philadelphia SE (.SOX) turun 4,3 persen, memperpanjang pelemahan selama enam sesi berturut-turut. Ini merupakan tren penurunan terpanjang indeks tersebut sejak Mei 2025.

Saham Apple (AAPL.O) naik 0,5 persen dengan kapitalisasi pasarnya ditutup di atas USD5 triliun untuk pertama kalinya.

Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada September seiring melonjaknya harga bensin dan meluasnya tekanan harga ke luar sektor energi, berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) di bawah Departemen Tenaga Kerja AS.

Pelaku pasar suku bunga kini memperhitungkan peluang sebesar 37 persen bahwa para pengambil kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini, meningkat dari 22 persen pada Selasa, menurut perangkat FedWatch milik CME.

Delapan dari 11 indeks sektor S&P 500 melemah. Sektor teknologi informasi (.SPLRCT) memimpin penurunan dengan koreksi 2,6 persen, diikuti sektor jasa komunikasi (.SPLRCL) yang turun 1,78 persen.

Volume perdagangan di bursa AS relatif tinggi, dengan 18 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan rata-rata 17,6 miliar saham selama 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Setelah mencetak rekor tertinggi pekan lalu, S&P 500 masih menguat hampir 13 persen sepanjang 2026, dengan sebagian besar kenaikan tersebut ditopang saham-saham terkait AI. Median saham dalam indeks S&P 500 hanya naik 4 persen sepanjang 2026, sementara lebih dari 200 konstituen indeks tersebut justru berada di zona negatif.

Saham Bank of America (BAC.N) turun 4,8 persen. Laba bank tersebut merosot pada kuartal III setelah perusahaan menyisihkan USD1,2 miliar untuk menutup potensi denda regulator terkait kegagalan mendeteksi indikasi pencucian uang. Saham Morgan Stanley (MS.N) turun hampir 3 persen, meskipun laba kuartalannya meningkat.

Indeks perbankan S&P 500 (.SPXBK) turun 0,7 persen dan ditutup pada level terendah sejak Juni.

Sebelum data inflasi dirilis, Wakil Ketua Pengawasan The Fed Michelle Bowman mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk mencermati perkembangan pasar dan perekonomian setelah menaikkan suku bunga pada September sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

Saham Bending Spoons (BSP.O) melonjak 41 persen setelah Berkshire Hathaway (BRKa.N) kembali berinvestasi sebesar USD330 juta pada perusahaan pemilik Vimeo dan AOL tersebut. Investasi ini menjadi dukungan besar dari investor ternama yang langkah-langkah investasinya dipantau secara ketat oleh pelaku pasar.

Jumlah saham yang melemah di indeks S&P 500 (.AD.SPX) melampaui saham yang menguat dengan rasio 1,1 banding 1.

S&P 500 mencatatkan 15 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 11 saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatatkan 27 saham pada level tertinggi baru dan 521 saham pada level terendah baru.

(NIA DEVIYANA)

SHARE