MILENOMIC

Bukan Sekadar Warisan, Gen Z Wajib Tahu Ini Agar Cermat Berinvestasi Emas

Rohman Wibowo 06/03/2026 03:03 WIB

Yos menyoroti fenomena psikologis yang lucu namun sering terjadi di kalangan investor muda saat melihat pergerakan harga emas.

Bukan Sekadar Warisan, Gen Z Wajib Tahu Ini Agar Cermat Berinvestasi Emas. (Foto Rohman/IMG)

IDXChannel - Bicara soal investasi emas, mungkin yang terlintas di benak sebagian besar anak muda adalah kebiasaan orang tua atau kakek-nenek zaman dulu. Menyisihkan uang, membeli perhiasan atau logam mulia fisik, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam lemari.

Maka, tidak heran jika hari ini banyak anak muda dari generasi kedua atau ketiga yang menerima warisan berupa emas.

Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian (Persero) Yos Iman Jaya Dappu mengatakan, emas tidak pernah kehilangan nilainya. Namun, harus ikut berevolusi mengikuti zaman.

Yos Iman menyadari betul karakteristik Gen Z yang sangat mengutamakan aksesibilitas atau kemudahan akses. Di era modern ini, kebutuhan dasar manusia seolah bertambah.

Jika dulu hanya sandang, pangan, dan papan, kini aplikasi di ponsel pintar telah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas sehari-hari.

“Anak muda Gen Z ini sudah terbiasa dengan sesuatu yang accessible. Dan accessible-nya ada di mana? Ada di ujung jarinya,” ujar Yos dalam acara diskusi di kantor Pegadaian, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Oleh karena itu, Pegadaian melakukan transformasi besar-besaran agar emas tetap memiliki nilai di mata anak muda dengan membawa investasi emas ke dalam bentuk aplikasi. Kemudahan mengakses jasa keuangan lewat smartphone kini diadopsi penuh dalam investasi emas digital.

Sehingga, tidak perlu lagi repot datang ke cabang dan antre berjam-jam, semuanya bisa dilakukan sambil rebahan.

Yos menegaskan, selain kepraktisan aplikasi, hal terpenting yang membuat emas digital begitu relevan bagi kaum muda adalah kebebasan finansial untuk memulainya. Berinvestasi emas kini tidak lagi membutuhkan modal jutaan rupiah.

“Dari Pegadaian, (generasi muda) bisa mulai dengan nominal yang paling kecil. Mulainya dengan Rp10.000 saja sudah bisa menabung emas. Dan yang paling penting adalah mudah karena tidak perlu antre,” katanya.

Dalam perjalanannya, Yos menyoroti fenomena psikologis yang lucu namun sering terjadi di kalangan investor muda saat melihat pergerakan harga emas. Kebanyakan orang terjebak dalam emosi sesaat.

Ketika harga emas meroket, banyak orang yang tiba-tiba berbondong-bondong membeli karena Fear Of Missing Out (FOMO) alias takut ketinggalan tren. Sebaliknya, ketika harga sedang turun, muncul perasaan Fear Of Better Option (FOBO). Padahal, cara pandang seperti ini justru keliru dalam berinvestasi emas.

"Ketika harga turun, orang malah ragu dan FOBO. Bingung mikir, Jual enggak ya? Ini harga entar naik lagi enggak ya?" kata Yos. 

Untuk membuktikan mengapa emas adalah instrumen investasi jangka panjang yang tangguh, Yos memberikan analogi terkait nilai tukar emas lintas zaman. 

“Ingat bahwa emas 1 kilogram berpuluh tahun yang lalu, nilainya itu setara dengan motor Honda Astrea. Tapi dengan emas yang sama, beratnya tetap 1 kilogram, sekarang nilainya bisa untuk membeli mobil," kata dia.

Yos memaparkan, sekitar 20 tahun yang lalu, harga emas hanya berada di kisaran Rp90 ribu per gram. Namun, kini harga emas telah melonjak tajam.

Menurutnya, emas memang instrumen jangka panjang yang luar biasa untuk mengalahkan inflasi, tetapi emas bukanlah instrumen untuk trading harian.

"Memang benar tidak ada harga yang naik terus-menerus tanpa adanya fluktuasi naik-turun. Namun, jika ditarik dalam garis waktu yang panjang, tren harga emas selalu menunjukkan grafik yang menanjak. Jadi, emas itu jangan dilihat sebagai trading harian. Lihatlah tren jangka panjangnya,” ujar Yos.

(Dhera Arizona)

SHARE