Harga Sama, Ukuran Menyusut: Shrinkflation dan 3 Tips untuk Menghadapinya
Menghadapi shrinkflation bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi memahami perubahan pola belanja dan menyesuaikan cara mengelola uang.
IDXChannel—Apa yang dimaksud dengan shrinkflation? Pernahkah Anda merasa snack favorit lebih cepat habis, padahal harganya masih sama? Atau menyadari bahwa ukuran sabun, tisu, atau produk kebutuhan sehari-hari tampak sedikit lebih kecil dibandingkan sebelumnya?
Contohnya, keripik kentang yang sebelumnya berisi 100 gram dapat berubah menjadi 85 gram dengan harga yang masih berada di kisaran yang sama. Hal serupa dapat terjadi pada produk lain, seperti tisu yang jumlah lembarnya berkurang atau deterjen cair yang volumenya disesuaikan.
Bisa jadi, Anda sedang berhadapan dengan shrinkflation. Istilah ini merupakan gabungan dari kata shrink yang berarti menyusut dan inflation yang berarti inflasi.
“Sederhananya, shrinkflation terjadi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harganya tetap sama atau mengalami perubahan yang relatif kecil,” ucap Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, dalam keterangan resminya, Jumat (2/10/2026).
Bagi konsumen, perubahan tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, jika terjadi pada berbagai produk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran bulanan bisa ikut terdampak karena produk yang biasanya cukup untuk satu bulan, bisa lebih cepat habis dan membuat frekuensi pembelian meningkat.
Ketika kebutuhan berubah, kita tidak sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi memahami prioritas dan menyesuaikan alokasi dana dengan kebutuhan yang ingin didahulukan. Lantas, bagaimana menyiasatinya tanpa harus mengurangi kebutuhan secara drastis?
Berikut ini adalah 3 tips menghadapi shrinkflation
3 Tips Menghadapi Shrinkflation
1. Audit kebutuhan dan pola belanja
Sebelum mengurangi atau mengganti produk, coba audit kembali kebiasaan belanja. Perhatikan apa yang dibeli, berapa banyak yang digunakan, seberapa sering produk habis, dan berapa biaya yang sebenarnya dikeluarkan.
Misalnya, kamu biasanya membeli shampoo ukuran 180 ml seharga Rp50.000 dan satu botol habis dalam dua bulan. Jika ukurannya berubah menjadi 160 ml dengan harga tetap Rp50.000, satu botol mungkin akan habis lebih cepat.
Artinya, dalam setahun kamu bisa membutuhkan lebih banyak botol dan mengeluarkan biaya lebih besar. Dengan mencatat harga, ukuran, dan frekuensi pembelian, kamu bisa melihat apakah perubahan ukuran tersebut benar-benar berdampak pada pengeluaranmu.
2. Bandingkan harga, ukuran, dan value
Jangan hanya melihat harga yang tercantum di label. Ketika ukuran produk berbeda, bandingkan harga berdasarkan satuan, misalnya harga per gram, per mililiter, atau per lembar. Cara ini membantu melihat apakah produk yang terlihat lebih murah memang memberikan lebih banyak value.
Misalnya, shampoo A seharga Rp50.000 untuk 180 ml berarti harganya sekitar Rp278 per ml, sementara shampoo B seharga Rp55.000 untuk 200 ml sekitar Rp275 per ml. Meski harga di label shampoo B lebih mahal, harganya per ml justru sedikit lebih murah.
Namun, harga per satuan tetap bukan satu-satunya pertimbangan. Kalau shampoo A ternyata lebih cocok sehingga cukup digunakan sedikit setiap kali keramas, atau wanginya lebih tahan lama, hal tersebut juga perlu diperhitungkan.
Jadi, tentukan prioritas berdasarkan harga, kuantitas, kualitas, dan kebutuhan, bukan semata-mata memilih produk dengan harga paling murah.
3. Evaluasi anggaran secara berkala
Anggaran bulanan sebaiknya tidak dianggap sebagai angka yang tidak boleh berubah. Ketika pola pengeluaran berubah, alokasi dana juga dapat disesuaikan.
Jika anggaran belanja bulananmu biasanya Rp5.000.000, kamu bisa mempertimbangkan penyesuaian alokasi secara bijak, misalnya dengan mengalihkan sebagian kecil porsi dari pos pengeluaran gaya hidup atau langganan opsional.
Agar penyesuaian anggaran lebih mudah dilakukan, pengelolaan dana juga perlu dibuat lebih terstruktur dan fleksibel. Salah satunya dengan memisahkan dana berdasarkan kebutuhan sehingga setiap alokasi dapat dipantau dan disesuaikan dengan lebih mudah.
“Saat harga dan ukuran produk berubah, pengelolaan anggaran juga perlu ikut menyesuaikan. Dengan memisahkan dana berdasarkan kebutuhan, kita dapat lebih mudah menjaga pengeluaran tetap sesuai rencana. Melalui aplikasi Jago, pengguna dapat membuat berbagai Kantong, baik Kantong Bayar maupun Kantong Nabung, untuk mengatur dana sehari-hari, tabungan, hingga kebutuhan lainnya yang dapat dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan,” ujar Michael.
Pada akhirnya, menghadapi shrinkflation bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi memahami perubahan pola belanja dan menyesuaikan cara mengelola uang. Dengan membandingkan nilai produk, mengevaluasi anggaran, dan memisahkan dana berdasarkan kebutuhan, perubahan kecil pada ukuran produk tidak harus menjadi kejutan bagi keuangan bulanan.
Itulah penjelasan singkat tentang apa yang dimaksud dengan shrinkflation dan 3 tips menghadapi shrinkflation.
(Nadya Kurnia)